Oleh-oleh untuk hidup
Terimakasih kepada teman-teman Kema Hiperkes 2014
Pengalaman ini berharga
dan rugi bagi mereka yang menutup sebagian mata
sebagian hati mereka
Desa Binaan II (4,5,6 April 2014)
Rejosari - Polokarto - Sukoharjo
Aku menggeliat, memperhatikan sekeliling yang tak asing lagi untukku. Ah, aku telah berada di kamarku, ruang kecil 2*2,5 ini berdinding bata, bukan anyaman bambu. Tanganku menjauh dari tubuhku, merasakan dinginnya lantai berkeramik, bukan tanah. Kasurku empuk, aku tidak tidur di atas tanah beralas tikar.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Kali ini, pikiranku yang menggeliat. Merangkak ke 2 malam lalu, mengais ingatan tentang Desa Rejosari.
Aku tak ikut berangkat dengan rombongan. Ya, aku dan April menyusul malam harinya. Tidak hanya berdua, bersama dengan 10 teman lainnya, kami menembus malam menuju Polokarto.
Ambar -teman serumahku nanti- telah berulang mengirimi aku pesan singkat. Sang ibu, yang akan ku tempati rumahnya selama 2 malam, telah menungguku.
Begitulah, sistemnya, peserta bakti sosial ditempatkan di rumah-rumah warga (tentu dengan izin pemilik rumah). Agar masing-masing orang dapat dekat dengan keluarganya, membantu dengan sepenuhnya.
Bu Paikem. Begitu pemilik rumah yang aku tempati. Rumah kecil berdinding anyaman, berlantai tanah. Sang ibu telah menunggu di depan rumah ketika aku datang, seperti ibu yang menunggu kedatangan anak kandungnya. Ambar juga di sana, wajahnya mengantuk.
Aku menyalami tangan ibu baruku dengan khitmat. Aku dipersilakan masuk ke dalam rumah kecilnya. Di depanku telah tergelar tikar pandan beralaskan jahitan karung beras dengan kasur tipis yang belum dapat menghangatkan tidur setiap malam.
Kami mengobrol panjang, menggunakan bahasa Jowo Kromo, aku yang besar di lingkungan melayu, hanya melongo. Mengerti sedikit, namun aku takut untuk berbicara. Aku takut salah berucap meskipun telahku beritahu kepada ibuku,"Ngapunten ibu, kulo mboten saget kromo."
Bu Paikem, ibu ini tinggal bersama anak ketiganya, Yamti, umurnya 18 tahun. Namun diumur yang tergolong muda ini, dia telah harus bekerja untuk kebutuhan hidup keduanya. Setiap malam, Yamti keluar rumah, bekerja di pabrik tak jauh dari rumahnya. Artinya setiap malam ibu Paikem sendirian.
Anak pertama ibu Paikem, merantau ke Medan, ikut suaminya. Anak keduanya juga telah menikah, rumahnya tak jauh dari rumah Bu Paikem, tetapi keadaannya tidak jauh berbeda.
Aku tidur dengan sandalku tepat dibawah kakiku.


Comments
Post a Comment