#10DaysKampusFiksiWrittingChallenge - Day 4
"Tanpa menyebutkan namanya, coba ceritakan bagaimana pertemuan pertamamu dengan si Dia"
Pertanyaan paling penting dari challenge hari ini adalah "siapa si Dia itu?" Aku kan jomblo 😭*nangis di pojokan*
Menceritakan pertemuan pertama dengan Dia yang belum pernah ditemukan pastinya sulit. Apalagi kalau pertemuan pertama itu pertemuan pertama beserta keluarganya. Hehehehe. Cuma bisa bayangin, kira-kira, nih, si Dia ini adalah Dia yang sudah pernah bertemu sebelumnya, atau yang memang belum pernah ditemui sama sekali, ya?
Atau si Dia yang dimaksud di sini adalah mantan? 😱
Awalnya aku mengasumsikan kalau si Dia ini bisa diganti sahabat dekat atau teman kumpul atau Dia yang pertemuan dengannya memberikan kesan berbeda. Tapi asumsiku patah karena satu kata "si" sehingga kembali ke asumsi awal. Dia yang dimaksud di challenge ini adalah pasangan. Hiks hiks hiks.
Sebagai jomblo yang ingin istiqomah menjomblo sampai ada yang berani bertandang ke rumah untuk meminang, aku akan menceritakan tentang si Dia-yang namanya pernah dirapal dalam doa-di postingan ini. Ingin istiqomah menjomblo tapi pernah ada nama yang dirapal dalam doa tidak apa-apa kan ya? Hehehehe
Pertemuan pertama yang benar-benar pertama itu lama sekali. Aku tidak ingat bagaimana pertemuan pertamaku karena itu terjadi bertahun-tahun yang lalu ketika aku masih berada di Sekolah Dasar. Jarak rumah yang tidak begitu jauh dan menjadi jamaah di Masjid yang sama tentu membuatku beberapa kali bertemu dengan si Dia ini meskipun saat itu biasa saja, tidak ada yang istimewa, masih SD soalnya.
Beranjak remaja, kami sama-sama berada di organisasi yang sama, Remaja Masjid. Entah siapa yang mencalonkan, ketika itu aku menjadi Ketua Remaja Putri. Apa si Dia menjadi ketua Remaja Putra? Tidak, yang menjadi Ketua Remaja Putra itu sahabatnya. Tapi dari situ kami jadi semakin sering bertemu untuk membahas program, membuat mading masjid, latihan kompang dan lain-lain. Selain sebagai Ketua, aku juga bertanggung jawab mengelola uang seragam.
Tahun 2009, aku lulus dari MTs dan si Dia lulus dari SMA. Kami berdua memutuskan untuk melanjutkan pendidikan keluar kampung di kota yang berbeda. Nah, pertemuan terakhir ini, nih, yang sampai hari ini masih membekas di ingatanku. Pertemuan di depan rumah, ketika si Dia mau bayar uang iuran seragam. Yang buat susah lupa adalah dia membayar tanpa turun dari motor. Transaksi dilakukan dengan Dia dan aku terpisah pagar. wkwkwkwk. Setelah itu, selama beberapa tahun, aku tidak pernah lagi berbicara dengannya.
Empat tahun kemudian, tiba-tiba Dia muncul melalui pesan facebook dengan pertanyaan,"Apa kabar? Vina sehat?" Sejak saat itu, kami mulai dekat dan banyak berbagi cerita hingga hari ini. Mohon jangan membayangkan yang tidak-tidak, sungguh, kami hanya dekat sebagai teman biasa. Seperti yang telah aku katakan, aku ingin menjadi jomblo istiqomah meskipun aku belum bisa membatasi diri untuk tidak bergaul dengan laki-laki. Aku memiliki beberapa teman laki-laki yang cukup dekat, sebatas teman. Tapi dari sekian-sekian itu, hanya Dia yang berani kusebut namanya di dalam doa.
Soal bertemu dan menemukan masih menjadi rahasia besar di hidupku.
Termasuk pertemuannya dengan si Dia yang aku ceritakan di sini, masih menjadi rahasia apakah nantinya Dia atau akan ada Dia yang lain yang ceritanya bisa ditulis sebagai "pertemuan pertama dua keluarga menuju masa depan bahagia" Ehehehehe.
Surabaya, 21 Januari 2017


Ooh emang pada awalnya jadi temen deket di sekolah ya, ditunggu cerita tentang pertemuan pertama dua keluarganya hehe
ReplyDeleteVisit blog saya juga mba https://t.co/zyTyBcr9gF
Nggak pernah satu sekolah mbak, beda sekolah... hehehe siaap mbak... saya mampir
ReplyDeleteCieee Vina... uhuy
ReplyDeleteCieee Vina... uhuy
ReplyDeleteSssttt... jg keras2 faaa.. hhaha...
DeleteAR: oh..... ternyata Dia....
ReplyDeleteVNK: Dia sapa? Emg mbk tau?
AR: Tau donk #sotoy
VNK: emg sapa coba.?
AR: Ya Dia, sperti yg Vina tuliskan, *Dia*
Mbak dila sehat? Wkwkwk
Delete