Nyanyian Bersama Hujan

"Rintik hujan saja bisa membuat lubang di batu yang amat keras. Aku tak akan pernah menyerah untuk mencuri hatimu seutuhnya, La" 
Kau tetap bersikukuh. Padahal berulangkali sudah aku katakan. Aku tak mau lagi pacaran.
Kita tak akan pernah tau, rasamu itu bertahan sampai berapa lama, aku juga tak pernah tau, rasaku untukmu bertahan berapa lama. Aku mengakuinya aku memang menyimpan suatu rasa untukmu. 
Rasa itu seperti electrik shock mengalir berlawanan arah dengan aliran vena atau nadiku. Membuat jantungku berdetak tak seperti biasa.
Aku seperti makan berbatang-batang coklat setiap kali berbicara denganmu. Perasaanku menjadi tenang dan senang. 
Kau ingat? Aku pernah bercerita dan menangis tersedu-sedu. Kau hanya mengenggam tanganku dan berkata, "Semua akan baik-baik saja."
Aku langsung percaya bahwa semua kan baik-baik saja.
Kenapa kau selalu membuatku merasa nyaman? Ah~ Kau benar-benar telah menggangguku.
Aku menatapmu lekat-lekat,"Bang, apa kau yakin akan menungguku? Kau tau kan aku sudah lelah. Aku tak ingin melompat dan jatuh lagi. Tidak berpijak tanpa tempatnya. Lalu aku harus melompat lagi kan? Lalu bagaimana kalau aku terjatuh lagi? Izinkan aku beristirahat barang sejenak. Aku butuh waktu untuk pulih dan bangkit."
"Aku mengerti, La. Tapi aku tak akan menyerah. Aku tak mau kalah. Mantapnya hatimu untuk rehat, segitu pula mantapnya hatiku untuk bertahan."
"Kau yakin? Tak akan menyerah? Tak akan jenuh lalu pergi?"
Kau mengangguk mantap.
Aku tersenyum. Kau akan tetap menjadi bagian dari kisahku, Bang. Bersama tidaknya kita nanti. Kau akan ada bersama dengan sejarahku.
Aku menatap keluar. Rintik hujan masih berkejaran. Berlomba-lomba mencapai permukaan yang ingin dia singgahi. Sama seperti kau juga nyanyian ini. Nyanyian merdu bersama hujan.




Comments

Popular Posts