Ketika Kau Tiada (#KabarDariJauh)

Karena kepergianmu adalah hal terberat dalam hidupku. Kehilanganmu adalah mimpi yang tak pernah aku harapkan kehadirannya. Tahun ini, Ramadhan ini, terakhir kalinya aku pulang dari rantau disambut dengan senyummu. Nanti, tak ada lagi gurauan tentang jodoh, tentang inginmu akan bayi mungil dariku.
***
"Yaa siin.... Wal'Qur aanil Hakim...." Aku membaca sepenggal demi sepenggal ayat suci ini. Terbata-bata, tepat di telingamu. 

Dengan mataku, aku menyaksikannya. Napasmu mulai satu-satu. Matamu mengarah ke kanan, aku yakin dari sana malaikat Izroil menjemputmu. Aku terpejam, membayangkan hangatnya tangan sang pencabut nyawa menuntun ruhmu keluar dari ragamu. Terlihat dari senyummu yang terbentuk di atas wajahmu yang bercahaya. Ada keteduhan di sana. Ada kedamaian di sana.

Aku rasakan Dokter melakukan resusitasi jantung paru. Jantungku berdegup kencang. Menyengat sudut-sudut sukmaku. Aku tersadar dalam isakan. Dalam lantunan Kalam Allah yang perlahan tak terdengar dari mulutku. Semua sudah berakhir. Waktumu sudah selesai. Kamu telah kembali. Pulang ke tempatmu berasal, tempat seluruh manusia berasal.

Aku melirik ke arah Dokter, dia menggeleng pelan,"Sabar. Mbah Kakung sudah tenang di sana. Kami sudah berusaha sebaik mungkin."

Hening menyergap. Mbah Putri yang sedari tadi meraung, terdiam. Di hadapanku, Mamak memeluk erat kedua kaki bapaknya yang terbujur kaku. Pamat Apit merengkuh istrinya yang sesegukan dipeluknya. Aku tak menyelesaikan bacaanku. Aku tutup Az-Zikr yang ada digenggamku dan meletakkannya di atas meja.

Aku berjalan menghampiri tubuh Mbah Kakung yang tak lagi bernyawa. Berjalan perlahan di atas ubin-ubin Puskesmas yang turut merasakan kepedihan. Langit pun bermuram durja. Mendung menggantung di langit, mewakili kesedihan alam dan seisinya. Aku cium kening Mbah Kakung. Masih hangat. Aku pandangi wajahnya, berusaha mengingat-ingat rautnya. Aku biarkan kenangan-kenangan tentang Mbah Kakung menguap di kepala. Senyum dan tawanya. Mbah Kakung yang tak pernah marah.

Samar-samar, permintaan Mbah Kakung menggelitik telingaku, inginnya yang telah disampaikan beberapa tahun yang lalu, sebelum aku lulus SMA. Selalu diulang setiap aku bertemu dengannya. "Mbah sudah pengen menggendong cicit darimu, Na. Kira-kira kapan, Na? Kira-kira Mbah sempat tak ya?"

Comments

Post a Comment

Popular Posts