Pulau Bawean dan Kenangan (4-6 Maret 2017)

"Huaaa, Vina jalan-jalan terus, nih." Sebagian bahkan banyak sekali teman-teman yang berkata demikian. Padahal, cukup jarang kalau dibandingkan tahun-tahun di Solo. Dan Alhamdulillah awal bulan Maret ini, aku berkesempatan untuk mencicipi air, tanah, udara, dan makanan Pulau Bawean. 

Letak Pulau Bawean


Buat yang belum pernah dengar Pulau Bawean, Pulau Bawean ini adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa. Pulau Bawean ini berada sekitar 80 Mil atau 120 KM sebelah utara Gresik. Aku sendiri baru dengar tentang Pulau Bawean ini setelah tinggal di Surabaya.

Perjalanan kali ini aku ditemani Ines (yang ngajak, mumpung dia pengen pulang ke Bawean), Mbak Octa, Mas Alfian, dan Mas Niko. Kami berangkat dari kos Mbak Octa menuju Pelabuhan Gresik sekitar jam 7 menggunakan GrabCar dengan estimasi biaya Rp 90.000,00.

Pukul 20.00, kami sampai di Pelabuhan Gresik. Mbak Pipit, Tantenya Ines, sudah menunggu di Pelabuhan dengan tiket kapal Gili Iyang di tangannya. Kapal akan berangkat pukul 21.00. Setelah semua tiket sudah dipegang yang mpunya, kami bergegas naik ke kapal. Perjalanan di kapal ini akan kami tempuh selama delapan jam. Cukup lama, kan?

Pelabuhan Gresik


Karena perjalanan ini malam hari, aku dan teman-teman banyak tidur saja di dalam kapal. Hehehe

Kemudian, pagi pun menjelang. Suara azan dan kokoan ayam mulai terdengar. Eh, ayam? Bukannya sedang di kapal, ya? Ya, memang ada beberapa ayam yang ikut di kapal, kok. Hehehehe

Setelah sholat Subuh, aku dan lainnya naik ke bagian atas kapal, dan MasyaAllah, semburat kemerahan mulai tampak di ufuk timur. Sunrise di laut Jawa jadi bonus paling indah di perjalanan kali ini. Alhamdulillah.

Matahari Pagi di Laut Jawa


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kapal merapat di Pelabuhan Pulau Bawean. Wah, selamat datang di Pulau Bawean.

Kedatangan kami sudah ditunggu oleh Mak dan Ayahnya Ines. Dengan menumpangi mobil yang dikendarai oleh saudaranya Ines kami meluncur ke rumah Ines. Perjalanan ke rumah Ines dari pelabuhan dapat ditempuh lebih kurang satu jam menggunakan mobil. Jalanan di Bawean cukup kecil. Agar tidak cepat rusak, jalanan di sini, menggunakan paving block. Ditengah-tengah perjalanan, kami berhenti untuk sarapan. Dan menu sarapan pagi ini adalah roti canai. Waaaa... Prata.. Prata...

Yang istimewa dari Bawean ini, aku bisa menemukan beberapa makanan yang susah sekali ditemukan di Surabaya. Seperti canai, nasi lemak, dan ikan segar. Berasa pulang. Apalagi beberapa kali melihat penduduk Bawean menggunakan baju kurung melayu, tambah bikin kangen rumah, deh.

Nah, notabene penduduk Bawean memang merantau ke Malaysia, makanya banyak penduduk Bawean yang menggunakan baju kurung melayu dan mengenal masakan khas melayu.

Akhirnya sampai juga di rumah Ines. Rumah Ines ini letaknya di Kecamatan Tambak. Ada dua kecamatan di Pulau Bawean, yaitu Kecamatan Tambak dan Kecamatan Sangkapura. Kebayangkan kira-kira berapa luasnya Pulau Bawean?

Setelah istirahat sebentar, aku dan teman-teman memulai petualangan. Jadi, kemana saja selama di Bawean, Vin?

1. Pulau Gili Noko


Bukan salah kostum

Jarum pendek jam mulai menunjukkan ke angka dua. Setelah puas beristirahat, kami bersiap-siap untuk menyebrang ke Pulau Gili Noko. Kami menempuh perjalanan laut selama 30 menit menggunakan kapal kecil (kalau orang melayu bilang pompomg).

Menuju Gili Noko

Selamat Datang

Pulau Gili Noko luasnya hanya sekitar seribu meter persegi. Karena Sabtu bukan hari libur, pulau ini jadi sepi sekali. Berasa pulau pribadi pokoknya. Setelah puas cekrek-cekrek kostum pun berubah. Siap untuk nyebur. Byur!!!
Pasir Putih dan Lautan Biru


Byur Byur

Air laut di Pulau Gili Noko sangat tenang. Berasa berada di kolam renang. Airnya sangat jernih, saking jernihnya, kaki-kaki kami dapat terlihat dengan jelas. Beberapa kali kami menemukan bintang laut yang masih menggeliat ketika diletakkan di tangan. Aku sendiri puas sekali main air di sini.

Hari pun menjelang sore. Senja temaram mulai tampak di ujung barat. Saatnya pulang, beristirahat, dan bersiap untuk trip keesokan harinya.

2. Bukit Gundul

Matahari baru saja naik tanpa malu-malu. Pukul 06.00 WIB, aku dan teman-teman menuju Bukit Gundul. Menuju ke bukit ini, kami harus menyusuri pantai berbatu. Kami menemukan banyak cabe-cabean (sejenis siput) di sepanjang jalan. Si cabe itu, biasanya dipepes oleh masyarakat bawean.

Jalan Berbatu Menuju Bukit Gundul
Berhenti dulu buat foto. cekrek

Spot di Bukit Gundul ini pas banget kalau ingin melihat matahari terbit. Dari atas sini, hamparan laut terlihat sangat indah. Apalagi dipadu dengan pantulan cahaya mentari pagi. Mengagumkan!

Naik-naik ke bukit gundul, tinggi-tinggi sekali

Morning View


3. Pemandian Air Panas Kepuhlegundi

Karena hari sudah semakin panas, kami melanjutkan perjalanan ke Pemandian Air Panas . Dalam bayanganku, pemandian ini berbentuk danau dengan air yang hangat. Ternyata pemandian ini sudah diberi tembok dan dipisahkan untuk tempat mandi laki-laki dan perempuan. Aku, Ines, dan Mbak Octa hanya menyelup-nyelupkan kaki saja di sini.

Panaaaaas
Untuk masuk ke sini, pengunjung membayar uang retribusi sebesar 5000 rupiah per-motor yang digunakan.

Sebenarnya kami masih mengunjungi penangkaran rusa, air terjun mortajale, dan danau kastoba di hari kedua ini. Ceritanya mungkin (mungkin, ya) akan aku ceritakan di lain kesempatan.

Di hari ketiga, aku dan teman-teman kembali ke Surabaya dengan perasaan berat untuk meninggalkan Pulau Bawean. Tapi karena harus kuliah, aku dan yang lain harus kembali Ke Jawa. Menumpangi Kapal Bahari Ekspress dengan tiket Rp 150.000/orang, kami menyebrang mengarungi Laut Jawa.


Comments

Popular Posts