Nggak Bikin Kantong Bolong, Inilah Tempat Wisata Murah di Surabaya.
Pernah dengar ada yang bilang kalau jalan-jalan di Surabaya itu membutuhkan uang banyak? Anggapan itu adalah salah satu kesalahan besar, lo, teman-teman. Berwisata di Surabaya itu sangat murah, bahkan ada yang gratis, tis, sampai ke parkirnya juga gratis.
Tidak percaya?
Nih, aku ceritakan pengalamanku berkeliling Surabaya bersama teman-temanku dan benar-benar tidak membuat kantong jebol. Monggo, dibaca.
Aku keluar dari kos sekitar pukul 05.30 WIB. Meskipun dicap sebagai kota yang panas, Surabaya di pagi hari memiliki udara yang cukup segar. Apalagi kendaraan di Minggu pagi juga tidak begitu banyak. Langsung saja, wuuuus,
aku meluncur dengan lancar ke titik kumpul. Titik kumpulnya adalah di sekitar Jalan
Raya Darmo.
1. Taman Mayangkara
Taman Mayangkara merupakan titik kumpul rombongan. Sekitar
pukul 06.00, aku memarkirkan motorku di sana. Taman ini adalah taman yang
dibangun untuk mengenang keberanian Batalyon 503 Mayangkara di bawa pimpinan
Mayor Djarot Soebyantoro saat menghadapi Belanda.
Taman mungil ini terletak tepat di depan Perpustakaan Bank
Indonesia dan diapit dua jalan utama Surabaya yaitu Jalan Darmo dan Jalan
Diponegoro.
Monumen di Taman Mayangkara
2. Perpustakaan
Bank Indonesia
Setelah semua berkumpul di Taman Mayangkara, aku dan
teman-teman bertolak ke Perpustakaan Bank Indonesia yang terletak di depan
taman tepatnya di Jl. Mayangkara No. 6 Surabaya.
Perpustakaan Bank Indonesia Tampak Samping
Gedung perpustakaan ini dulunya adalah rumah pejabat De Javasche Bank dan disebut Worning voor Agent van Javasche Bank. Karena itu, arsitektur bangunan ini sangat kental dengan desain berbau Belanda. Sebelum menjadi museum Bank Indonesia, bangunan ini dijadikan MMuseum Mpu Tantular. Pada tahun 2004, museum Mpu Tantular tersebut dipindah ke Sidoarjo.
Oleh Pemerintah Kota Surabaya, Gedung ini telah ditetapkan
sebagai bangunan cagar budaya sesuai
dengan SK Walikota No. 188.45/251/402.104/1996 dan merupakan salah satu aset
bersejarah Bank Indonesia yang ada di Surabaya. Sedangkan peresmian
perpustakaan dilakukan pada 15 Juli 2012.
Perpustakaan Bank Indonesia ini dibuka untuk umum setiap
Senin-Sabtu Pukul 08.00 - 16.00 WIB. Karena hari ini tutup, jadi cuma
bisa foto di depannya doang.
3. Monumen Resolusi
Jihad Nahdatul Ulama
Monumen yangg terletak di kantor Pengurus Cabang NU Surabaya
berada di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya. Monumen ini diresmikan pada 23 Oktober
2011. Monumen ini dibuat sebagai menyimpan memori dan sejarah berkaitan tentang
peran ulama dan kiai dalam peristiwa 10 November 1945 agar tidak dilupakan dan
dapat diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
Salah satu teman kami berpose di depan Monumen Resolusi Jihad.
Isi dari resolusi jihad yang difatwakan ulama itu intinya ada
tiga, yaitu fatwa hukum melawan penjajah adalah kewajiban pribadi, tewas
melawan penjajah adalah mati syahid, dan mereka yang memecah
4. De Javasche Bank
De Javasche Bank ini beralamat di Jalan Rajawali 1 Surabaya.
De Javasche Bank didirikan di Batavia pada 24 Januari 1828 sedangkan cabang
Surabaya didirikan pada 14 September 1829. De Javasche Bank Surabaya ini
berubah menjadi Bank Indonesia pada 1 Juli 1953. Namun karena kapasitas gedung
tidak memungkinkan untuk operasional kantor, akhirnya gedung Bank Indonesia
pindah ke Jalan Pahlawan 105 hingga saat ini.
Gedung lama Bank Indonesia kemudian dijadikan museum dengan nama museum De Javasche Bank. Di sini, pengunjung akan dimanjakan dengan sejarah mata uang dan perbankan Indonesia, foto-foto, dan koleksi mata uang kuno. Museum ini dibuka setiap hari dari Pukul 08.00-16.00 WIB.
5. House of Sampoerna
Nah,
setelah dari Bank De Javasche, perut-perut kami mulai meronta. Akhirnya isi
perut dulu di warung Soto dekat House of Sampoerna. Enak. Rp 10.000,00 sudah
kenyang banget karena porsinya banyak. Selesai
makan kami langsung meluncur ke House of Sampoerna.
Tampak depan Museum House of Sampoerna
House of Sampoerna (HOS) adalah museum yang baunya sangat khas yaitu bau tembakau dan cengkeh. HOS berada di Taman Sampoerna 6, Krembangan Utara, Pabean Surabaya.
Gedung
HOS ini terdiri atas dua lantai, lantai pertama sebagai ruang pameran. Di lantai ini, dipamerkan berbagai macam jenis cengkeh dan tembakau, alat pembuat rokok, pemantik, dan lain sebagainya.Lantai kedua digunakan sebagai ruang untuk menjual soevenir. Pada hari kerja, dari lantai
kedua kita bisa melihat para pekerja bekerja membuat rokok dari lantai dua ini,
lo.
6. Rumah Kelahiran Soekarno
Ir. Soekarno lahir di Blitar atau di
Surabaya, hayo?
Setelah
beberapa kali ziarah ke makam beliau di Blitar, alhamdulillah, kali ini bisa mampir ke
rumah kelahiran beliau. Meski sudah sampai di sana, kami tidak masuk ke dalam
rumah tersebut. Saat ini, rumah kelahiran Ir. Soekarno telah ditempati oleh
keluarga lain yaitu keluarga Ibu Djamilah.
Berfoto di depan rumah kelahiran Ir. Soekarno
Rumah
Kelahiran Ir Soekarno ini letaknya di Jalan Peneleh, Gang Pandean 4/10. Karena
rumah ini ditempati oleh warga, kami hanya mengambil foto di luar saja.
Meskipun begitu, rumah ini termasuk salah satu
cagar budaya di Surabaya, lo.
7. Rumah HOS Cokroaminoto
Siapa yang tidak mengenal HOS Cokroaminoto? Pahlawan nasional yang satu ini adalah salah satu tokoh pendiri Sarekat Dagang Islam sekaligus guru bagi presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Rumah HOS Cokroaminoto ini terletak di Jalan Peneleh Gang VII, Genteng, Surabaya.
Mas Yanuar sedang bercerita tentang sejarah rumah HOS Cokroaminoto
Menurut
cerita Mas Yanuar (petugas dari Dinas Pariwisata), sebelum didaftarkan sebagai
cagar budaya rumah ini digunakan sebagai tempat berkumpulnya etnis Tionghoa. Tapi
arsitekturnya sama sekali tidak berubah dari aslinya. Setelah dijadikan cagar
budaya, rumah ini kembali di tata agar pengunjung dapat kembali mengenang HOS Cokroaminoto.
Demikian
sekelumit kisah perjalananku bersama teman-teman berwisata budaya dan sejarah
di Surabaya. Jadi, jalan-jalan di Surabaya tidak melulu tentang taman, mall,
pantai, Jembatan Suramadu, tapi wisata budaya dan sejarah dapat menjadi alternatif
wisata di Surabaya. Apalagi wisata budaya dan sejarah di Surabaya ini sangat murah. Yuk, mengenal sejarah dan budaya yang ada di Surabaya.








Comments
Post a Comment