Miko

Seperti anak muda pada umumnya, aku bersiap untuk bermalam minggu. Tentu saja bersama Miko, kekasihku. Tak ada yang lebih membahagiakan selain bermalam minggu dengan kekasih. Semua orang tahu itu. Kamar 3 x3 inipun ikut merasakan kegembiraannya. Bahkan lemari kayu warna biru itu turut tersipu malu. Apalagi cermin dihadapanku, ronanya berwarna merah jambu, semerah jambu pipiku.
Aku putar badanku ke kiri dan ke kanan, aku patut-patutkan penampilanku. Aku bertanya pada cermin,”Sudah cantikkah aku?”
Ah, sang cermin seakan mengangguk mantap. Lampu di atas kepalaku juga turut menggoyang-goyangkan bohlamnya. Dia berteriak, ”Kau sempurna, Jihan!”
Aku keluar dari kamarku. Tepat saat aku menutup pintu, ayah dan ibu menatapku, tatapan heran penuh pertanyaan. Aku tersenyum “Jihan mau ketemu Miko, Yah, Bu.”
Aku melihat ayah menghela napas panjang dan ibu, matanya berkaca-kaca, lalu memalingkan wajahnya ke arah televisi. Ekspresi ini sudah biasa aku terima. Aku berlalu saja. Melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Aku memilih menunggu Miko di kursi kesayanganku.
“Kau akan pergi bersama Miko?” Bunga mawar kertas di sudut ruangan bertanya padaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
“Jihan”
Aku tersentak, telah duduk tepat di kursi  di depanku.
“Miko. Sejak kapan kamu di situ? Kok aku nggak mendengar suara motormu?”
Miko menyentil hidungku dan tertawa,”Kau ini, makanya jangan melamun saja. Apa bunga mawar itu bertanya lagi padamu?”
Aku tersipu,”Iya. Kamu tau apa katanya? Dia bilang kita pasangan paling serasi sedunia”
“Tentu saja.” Jawab Miko sambil membusungkan dadanya.
“Kita ngobrol di rumah saja ya. Aku tak bisa berlama-lama, Ayah memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Paman Jay. Kau taukan, Kak Sarnia, sepupuku itu, akan menikan. Ayah dan ibumu mana?”
Aku manggut-manggut. “Baiklah Miko, jangan lupa hati-hati di jalan. Aku tak mau sesuatu terjadi padamu, juga pada calon ayah mertuaku. Ayah dan Ibu ada di dalam, mau aku panggilkan?”
“Tidak perlu, sayang. Oh ya, ini aku bawakan buku untukmu. Katanya kau kesulitan mengerjakan tugas ergonomikan? Aku rasa buku ini bisa sangat membantumu.”
Buku bersampul hijau itu seakan tersenyum. Aku membuka halamannya satu persatu. Keningku berkerut, “Miko, aku masih tidak mengerti dengan isi buku ini.”
Miko menatapku dalam-dalam,”Sini, aku jelasin sedikit ya.”
Malam itu, aku dan Miko menghabiskan malam minggu dengan berdiskusi. Sekali-sekali Miko melirik ke arah jam di dinding. Dentangnya mengingatkan bahwa waktu Miko tak banyak. Ayahnya telah menunggunya di rumah, Paman Jaypun pasti juga menunggu kedatangan mereka.
“Aku pamit ya, Jihan. Tolong panggilkan ayah dan ibumu, aku mau pamit.”
Aku masuk ke dalam rumah, aku panggil ayah dan ibuku, aku katakan bahwa Miko akan segera pulang. Tak ku dapati ayah dan ibu di ruang televisi. Sayup-sayup aku mendengar suara di dalam kamar ayah dan ibu, suara ibu menangis tersedu. Aku mengurungkan niat untuk memanggil ayah dan ibu, “Ibu menangis? Ada apa ya?”
Dengan perasaan heran bercampur cemas aku langkahkan kakiku kembali ke ruang tamu. Akan ku katakan pada Miko bahwa ayah dan ibuku sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Miko, tidak ada di sana.
Ruang tamu ini menjadi beku. Raut-raut kasihan, sedih, dan terluka muncul menjalar di setiap dinding-dinding yang bisu. Aroma bahagia pudar seiring dengan layunya bunga mawar di sudut ruang, kelopaknya tinggal satu.

Seketika lututku lemas, aku seperti lumpuh, lalu terjatuh. Aku tak kuat menopang berat badanku sendiri. Air mataku menetes perlahan. Miko, kekasihku, telah pergi untuk selamanya, setahun yang lalu.

Comments

Popular Posts