Selamat Jalan Mbah Kakung (Alm. Jasri) 31 Desember 1934-5 Juli 2014

"Setiap yang bernyawa pasti akan mati"

Kematian tentu adalah suatu takdir yang tidak dapat ditinggali. Rasa kehilangan dan sakitnya juga tak mungkin dapat dihindari. Meski ini bukan kali pertama aku ditinggal mati, namun rasa sakit dan kerinduan terhadap sosok ini tak dapat aku pungkiri.
Mbah, semoga amal ibadahmu menjadi kendaraan indah nan mewah menuju surga Allah yang abadi...

Aku tak pernah ingat, kapan aku mengenali mbah. Sejak kecil setiap tahunnya aku dan keluargaku pasti berkunjung ke ke rumah orang tua dari ibuku. Mbah Kakung dan Mbah Putri. Sebuah kampung kecil dengan jalanan becek, tanpa listrik, tanpa kamar mandi. Namun, itu tak pernah menyurutkan inginku untuk berkunjung ke sana.

Mbah Kakung adalah sosok paling sabar yang pernah aku kenal. Sekalipun aku tidak pernah melihat beliau marah, cemberut, apalagi sampai bersungut-sungut. Aku selalu diajaknya bercanda dan tertawa.

Pernah waktu itu aku kelas 1 MTs (sekolah sederajat SMP) aku berkunjung ke rumah Mbah ketika liburan. Sesampainya di rumah, setelah salim, Mbah tiba-tiba bertanya, "Dapat juara nggak?"

Aku menganggukkan kepalaku.

"Alhamdulillah, mau hadiah? Vina boleh memilih cowok manapun untuk dijadikan pacar"

Sontak, aku tersipu, malu, dan berujar," Mbah nii.. Apelah."

Mbah seperti memiliki kemampuan khusus melihat masa depan cucu-cucunya. Aku bisa menulis begini bukan tanpa alasan.

Suatu hari, tiba-tiba mbah mendekatiku dan memberikan secarik kertas berisi doa.

"Na, doanya dihapalin ya, baca 3 kali setelah sholat subuh dan 3 kali setelah sholat maghrib."

"Ini doa apa mbah?" Tabyaku.

"Doa selamat. Biar dilindungi Allah dari sesuatu yang mencelakakan."

Aku yang masih polos hanya mengiyakan, tapi aku tak melakukan apa yang Mbah Kakung pinta. Ternyata 3 hari berselang aku kecelakaan, tanganku yang basah menyentuh kabel di kamar mandi. Aku tersetrum. Tanganku bonyok dan hingga sekarang menimbulkan bekas luka. Sejak saat itu, aku rajin membaca doa tersebut, "Semoga Allah melindungiku dan keluargaku dari bahaya"

Satu permintaa beliau yang belum bisa aku penuhi adalah keinginannya untuk menggendong cicit. Permintaan ini disampaikannya ketika aku kelas 1 SMA. Aku yang terkejut mendengar pintanya hanya dapat berkata," Mbah Kakung jaga kesehatan ya, InSyaAllah setelah Vina jadi sarjana, punya pekerjaan yang layak, Vina menikah dan memberikan cicit untuk Mbah."

Keinginan ini mungkin adalah keinginan terakhirnya dariku. Bulekku bercerita kalau Mbah Kakung ingin menungguku bersanding sebelum beliau meninggal. Namun Allah berkehendak lain, Allah memberikan jalan yang lain. "Tenang di alam barzah ya Mbah, Vina sayang dan akan selalu mendoakan Mbah."

Tahun 2014 ini, adalah tahun terakhir pulang ke rumah dengan senyum Mbah Kakung menyambutku. Tak akan ada lagi senyumnya di tahun-tahun yang akan datang.

"Mak, Vina, Viki, sama Ifa naik oplet aja dari pelabuhan" Smsku yang hanya dibalas dengan huruf Y oleh mamakku.

Sesampainya di gang masuk rumah, kami bertiga berlari dan berteriak, "horee ruumaaah"

Kebahagiaan ini tak akan pernah tergantikan. Satu-satu aku salami keluargaku yang menunggu di depan rumah. Mamak, Mbah Putri, Mbah Kakung, Lia, Aan, Irham, dan Bulek Tatik.

Malam itu, ketika aku makan, Mbah Kung melihat ke arahku dan berkata, "Mbah kok belum ada memperhatikan muka Vina sejak Vina pulang tadi."

Aku tertawa lalu menghadap Mbah dan berkata, "Vina makannya menghadap Mbah aja lah ya, jadi Mbah bisa tengok muka Vina." Aku dan Mbah Kungpun tertawa bersama.

3 hari di rumah, keluargaku terkena musibah kecil. Kebun yang paginya baru saja aku dan keluargaku tanami dengan ubi, terbakar, Alhamdulillah hanya kebakaran kecil. Tapi kebakaran itu cukup membuat Mbah Kakung gelisah, hampir tiap saat beliau bertanya tentang itu. Malam itu, adalah malam pertama Ramadhan, dan aku bersama mamak, bulek, dan adik-adikku sholat di surau dekat kebun.

Keesokan harinya Mbah Kakung, aku, dan Viki duduk ngobrol di depan telivisi.
"Masak Viki sudah ada uban." Ujar adikku mengeluh.

Tiba-tiba Mbah cerita, " Dulu, ada seorang sahabat Nabi yang minta sama malaikat maut. Kalau dia mau mati tolong dikasi tau. Lalu tahun-tahun berlalu, rambut sahabat itu uda berubah warna jadi putih, kulitnya juga uda keriput, malaikat maut datang. Sahabat marah-marah,"kan aku udah bilang, kasi tau dulu kalau mau jemput aku." malaikatpun berkata,"kan udah aku kasi tanda, uban dan keriputmu itu tanda dariku.""

"Jadi, Viki dah nak meninggal Mbah?" lalu kami bertiga tertawa.

"Tidaklah.." Jawab Mbah.

Aku merasakan perubahan itu, mungkin ini firasat? Mbah kakung menjadi sosok yang lebih pendiam dari biasanya. Aku utarakan hal tersebut kepada mamakku. "Mungkin perasaan Vina saja" Begitu tanggapannya.

Perasaan tak enak ini semakin menjadi ketika tiba-tiba Mbah Kakung menanyakan bulek Tatik yang sudah pulang ke rumahnya semalam, bertanya Mbah tidur sama siapa padahal Mbah tidur sendiri, dan tiba-tiba tidak mengenali suaraku untuk sebentar.

"Na, bulek Tatik mana? Tadi Mbah tidur dengan siapa?"
"Bulek udah pulang semalam mbah. Mbah tidur sama mbah Putri tak?" jawabku.
Mbah cuma tertawa lalu masuk ke dalam rumah. Kala itu, aku, Mbah kung, dan Mamak memang sedang memindahkan benih kates ke pot yang lebih besar di teras rumah.

Tiba-tiba Mbah Putri keluar rumah dan berkata dengan panik, "Ziah, bapak mu nggak bener iku, jarene dekne sare ning omahe kawit bareng Syam"

Aku dan mamakku terdiam, perasaan tak enak mulai menjalar. "Mungkin bapak mulai pikun, mak." mamakku berujar pelan.

Keesokan harinya, Jum'at 5 Juli 2014, tiba-tiba Mbah Kung membuat teh panas ketika sirine imsak hampir berbunyi, aku pandangi Mbah Kung, dalam hati aku berjanji akan membuatkan Mbah Kung teh panas besok. Tapi ternyata itu sahur terakhirku bersama Mbah Kung.

Tak ada lagi yang meminta diambilkan nasi ketika makan dan si kucing tak pernah lagi manjat badan Mbah kakung ketika beliau makan.

Sore itu, ketika berbuka, Mbah Kakung tidak beranjak dari tempat tidur, badannya lemas. Aku dan Mbah Putri memapahnya keluar kamar. Tegukan pertama minumnya, Mbah muntah-muntah. Aku pikir itu masuk angin, aku pijat-pijat bahu mbah.

Semalaman itu mbah muntah-muntah, mamak memanggil dokter, tensi mbah tinggi.
Keesokan harinya, tepat pukul 6 pagi, mamak menelepon ambulan dan Mbah di bawa ke puskesmas.
Sesampainya di puskesmas, Mbah muntah lagi. Selama itu, Mbah sama sekali tidak ada berbicara. Hanya mengangguk, menggeleng, dan senyum.

Terakhir aku melihat Mbah tersenyum ke arahku, waktu aku pamit pulang sebentar.
Setelah itu, kondisi Mbah Kakung menurun. Mbah Putri menangis terus, sepertinya Mbah Putri tak tega melihat napas Mbah Kakung yang naik turun.

Dan saat Mbah menghembuskan napas terakhirnya, aku tengah membaca yasin, ifa, mamak, mbah putri, paman, dan kak zila ada disampingnya.
Aku cium mbah kakung, wangi sekali baunya. Aku pandangi wajahnya, senyumnya manis dan bercahaya.

Tenang di sana Mbah, semoga kita dipertemukan kembali di surga Allah yang abadi...

Comments

Popular Posts