Matahari dan keinginan untuk kembali
Selalu ada yang menarik dari matahari. Baik ketika ia hendak terbit atau saat terbenam. Cahaya kemerah-merahannya indah. Tak akan bosan mata-mata manusia memandang. Di sini, aku berdiri untuk mengagumi matahari. Paginya telah menyeretku dan memaksaku untuk pergi dan sorenya membawaku kembali.
Selalu, tiap tiba saatnya kembali ke rantauan. Kaki enggan melangkah keluar dari rumah. Meski ibu dan bapak telah mendorong tubuhku berkali-kali.
"Kau bisa ketinggalan kapal," ujar Ibu.
Ayah menimpali tak mau kalah, "Pergilah, demi kebahagiaan Bapak dan Ibu."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Menata kembali tekad dan mengingat semua cita-citaku. Kutatap wajah Bapak dan Ibu yang semakin tua. Senyum penuh cinta terpancar dari keduanya. Kusalami kedua tangan mereka dengan hikmad. Pelukan erat sebagai tanda perpisahan. Ah, padahal ini telah aku lakukan selama 6 tahun, sejak aku memutuskan merantau ke tanah jawa.
Jemputanku telah datang. Bang Husin melambaikan tangan dari dalam Oplet putihnya. Aku mengangguk. Sekali lagi, ku sapu pandangan ke seluruh rumah. Bunga mawar merah dan matahari yang menyembul dari sela-sela pohon nangka yang mulai berbuah.
Aku duduk tepat di kursi sebelah Bang Husin. "Siap, Ning?" tanyanya.
Aku mengangguk pasti. Lambaian tangan telah menjadi tanda perpisahan.
"Pak, Bu. doakan, semoga Ning bisa jadi anak yang dapat terus mengalirkan pahala jariyah ke Bapak dan Ibu. Sampai nanti, sampai tiba saatnya Isrofil meniup sangkakala," kataku semalam, sesaat sebelum tidur terakhir di kamar kesayangan.
***
Dan hari ini. Saat rembulan memakan sebagian matahari di Surabaya, di antara jamaah sholat subuh dan gerhana di Masjid Nuruzzaman. Keinginan untuk kembali semakin kuat.
Surabaya, 9 Maret 2016



Comments
Post a Comment