Sebatas Pengingat : Surat Untuk Para Kesayangan
Kepada keluargaku di Surabaya.
Pak Lion, Mas Tri, Awan Santos, Rizza, Mas Awan, Ferdy
Mbak Dila, Filda, Mbak Elly, Mbak Cahya, Ema, Mbak Okta, Intan, Mbak Miftah, Mbak Tyas
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Salam Sejahtera
Imam Syafi’i pernah bersyair, “Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.”
Aku sudah benar-benar membuktikannya. Sejak kecil, telah hidup berpindah-pindah, pekerjaan bapak membuat kami sekeluarga harus berpindah dari satu estate ke estate lainnya. Lalu, setelah krisis moneter, akhir tahun 1999, orang tuaku memutuskan untuk menetap di suatu pulau di Kepulauan Riau, Tanjungbatu. Pertimbangan yang lain, aku akan masuk sekolah dasar,
Jangan kira perjalananku berhenti di Tanjungbatu. Lulus MTs, dengan penuh keberanian, ku putuskan untuk merantau, bersekolah di pulau seberang, Karimun, pulau tempat berpijaknya ibukota kabupaten. Setahun kemudian, aku memutuskan untuk pindah lagi, Rembang, melanjutkan SMAku di sana. Aku pernah tinggal di Jogja hampir dua bulan, melanjutkan D3 di Solo selama 3 tahun, pernah di Pare sebulan, di Batam tiga bulan, dan sekarang aku di Surabaya. Selama berpindah-pindah, selama tinggal di tempat yang berbeda, bertemu keluarga baru, sahabat baru, suasana, dan pengalaman baru adalah pencapaian paling indah yang telah aku terima.
Sebagian dari keluargaku di Surabaya
(Photo by : Cahya)
Bertemu kalian membuat rasa syukur tak pernah luput dalam hatiku.
Sejak awal menginjak kaki di Surabaya, sudah terasa bahwa ada ketidakcocokan antara aku dan kota ini. Cuaca yang panas, macet, ramai, sedikit hujan, sangat bertolak belakang dengan aku yang menyukai sunyi di antara pepohonan sawit atau kelapa, suara binatang malam, rintik dan bau hujan, atau debur ombak yang selalu menenangkan. Surabaya benar-benar belum dapat tempat di hatiku. Apalagi dengan beberapa makanan yang kurang cocok di lidahku Tapi, dengan adanya kalian, selalu ada yang membuatku ingin kembali ke Surabaya saat aku pergi. Entah itu bersua, bercerita, bercanda, atau sekedar makan tanpa suara.
Terimakasih banyak untuk kejutan di umur ku yang ke 22.
Perjuangan mereka nyiapin kejutan
(Photo by : Cahya)
Sebenarnya, sebagai orang yang sudah kumpul bersama kalian selama 1 semester, aku yakin, telah ada kejutan yang disiapkan untuk merayakan ulang tahunku. Meski aku tak berani menebak kapan. Malam ini, 21 Maret 2016, hadiahku dari kalian, aku terima.
Senin malam adalah jadwal rutin badminton. Karena aku tahu, badminton ini akan membuatku pulang lebih lambat dari biasanya. Pukul 23.00, 24.00. 01.00, bahkan 01.30-keluargaku memang punya semangat badminton tinggi. Jangan-jangan kalian memukul kok dengan penuh dendam. Hahaha. Sebagai pembalasan dendam atas sesuatu misalnya. Hahahaha-malam ini aku putuskan untuk tidur di kos Mbak Dila.
Sebelum mampir ke kos Mbak Dila untuk meletakkan barang-barang sebanyak tas gunung, Filda memintaku untuk menemaninya makan di Wapo. Keluar dari gerbang kampus, aku dan Filda berpapasan dengan Mas Tri dan akhirnya kami memutuskan untuk makan bersama. Wapo tutup. Warung welas jadi pilihan. Ternyata Pak Lion, Rizza, Awan Santos, dan Mbak Okta juga makan di sana. Jujur saja, dalam hatiku bergumam, "mungkin bukan malam ini kejutannya." *ketahuan ngarep banget, ya. Hehehehe*
Setelah makan, aku ke GOR untuk mengambil kunci kos Mbak Dila, dan aku yakin kalian tau apa yang terjadi, Filda menghilang. Itu aku beneran panik, Filda belum pernah ke GOR sebelumnya. Aku memutuskan untuk ke kos Mbak Dila duluan. Filda menelponku dan mengatakan kalau dia kesasar. Lucu. Aku merasa jahat karena menertawakannya. Tak lama, Filda sampai di kos Mbak Dila di antar Awan Santos.
Mungkin aku tak sadar, waktu aku sampai di GOR pertama kali, beberapa di antara kalian ada yang meniup balon. Balon-balon itu jadi favoritku, lo. Tapi, kedua kalinya aku sampai di GOR, aku sudah melihat dari jauh, ada lilin-lilin di sana. Lucu. Beneran. Cuma Mbak Dila yang menyadari kehadiranku. Aku nggak tau mau keluar lagi karena malu atau masuk dan menikmati rasa malu yang entahlah, tak bisa diungkap dengan kata-kata. Kenapa kalian yang-aku anggap-gagal ngasih suprise tapi aku yang malu, ya?
"Mana Vina?" Entah suara siapa ini.
Mbak Cahya merangkulku dan bilang, "Di sini."
Lampu dimatikan. Huoooo. Yang terang hanya nyala lilin di atas brownis dan lilin-lilin membentuk huruf V. Aku maju, dan berdiri tepat di depannya.
Lilin, balon, kue. Keluarga.
(Photo by : Okta)
"Apa harapanku harus disebutin?" Mungkin ini adalah pertanyaan bodoh yang terlontar. Hahaha... Aku benar-benar tak ada harapan untuk diriku sendiri. Maka yang terucap hanya :
Menjadi lebih baik menurutku bukanlah sebuah harapan
Tapi adalah suatu keharusan
Maka aku akan terus berusaha memperbaiki diri
Menjadi lebih baik untuk semuanya
Harapanku....
Semoga keluarga ini tetap eksis sampai tua
Tak saling lupa meski pada akhirnya
Waktu akan mempertemukan kita
Pada jarak yang mungkin akan memisahkan
Karena aku selalu takut dilupa
Pada orang-orang yang tak kan pernah ku lupa
Lilin ditiup. Lampu dihidupkan. Balon dilempar-lempar. Foto-foto di mulai.
Abaikan Awan Santos. Masa-masa krisis hamil hampir 10 bulan. Wkwkwkwk
(Photo by : Cahya)
"Gaya bebas dong. Yang lucu," arahan Mas Awan, sang Potographer. Jadinya malah nggak beraturan gini. hehehehe
(Photo by : Rizkiawan)
Eh, muka doang dong. Eh, kok backgroundnya jelek banget. Hahahaha. Modelnya yang cerewet.
(Photo by : Rizkiawan)
Kita masuki sesi selanjutnya. Sesi bingung. Buka hadiah dulu atau makan kue dulu. Hadiah dari kalian ini sangat sederhana tapi istimewa. Ketika aku tanya, jawabannya pun bermacam-macam.
"Toples mentos," kata Mbak Okta. "Kupon belanja," menurut Mas Awan. "Itu adalah perintah yang harus kamu lakuin selama setahun," ujar Mbak Elly.
(Photo by : Cahya)
Karena sepertinya itu akan memakan waktu lama, aku putuskan untuk memberikan satu persatu, potong demi potong kue, kepada kalian yang hadir di situ. Sini, dedek suapin. Hehehehe.... Sayangnya sesi ini nggak ada dokumentasi...
Tiba saat mendebarkan yang paling di tunggu-tunggu. Buka toples. (Pengen upload foto isi toples, tapi bluetoothnya gagal mulu. Huhuhu....) Dan isi toples berkerudung merah jambu itu adalah...
Ucapan selamat, doa, semua tentang aku. Aaaaaaak. Kalian niat banget. Beneran. Kok bisa aku nggak sadar kapan kalian minta itu ke teman-teman sekelas. Daaaan ucapannya lucu-lucu. Semua doanya baik-baik. Ada yang hanya menulis, "Anda belum beruntung.", "Coba lagi,". Ada yang curcol kalau sebenarnya dia bingung dengan apa yang dia lakuin saat itu. Ada yang bilang aku pendiem (banyak, dan artinya belum mengenalku), ada yang benar-benar belum kenal sama aku.
Dan telah ku putuskan untuk membuat nominasi. wkwkwk
Ema untuk puisi terbaiknya. Terima kasih Em...
Santos untuk segala doa terbaiknya. Semoga Allah mengabulkan doamu....
Pak Lion yang terlalu fokus dengan Metoplen...
Mbak Elly yang aku suka banget dengan semua yang ditulis, meskipun rada nggak masuk akal. Hahahaha
Fildah, yang sama-sama, kita jangan mudah baper ya...
Mas Awan, Mbak Dila, dan Mbak Okta dengan segala doanya...
Mbak Cahya.... Aku nggak bisa baca tulisan jepangnya... Hihihihi....
Mas Tri, pesanmu, untuk selalu ingat mati, akan aku lakukan....
Dan terakhir Rizza... Beneran, aku males sudah nyari kertas punyamu, nggak nemu-nemu -_-
Juga yang lain... Terima kasih banyak...
Maafkan aku yang terkadang keluar sisi "nyebelinnya". Yang pernah sukses menoreh luka di hati salah satu dari kalian. Yang kadang nggak sengaja memberi harapan. Yang mungkin, tanpa kalian, sudah merengek pada bapak, minta pulang. :-D
Aku memang nggak suka Surabaya. Tapi aku sayang kalian.
Surabaya, 22 Maret 2016
Vina Naila Karimah









Comments
Post a Comment