2014 (Berawal di Pare, Kediri. Berakhir di Ratu Boko dan Prambanan, Jogja)
"Agenda 2014 --> Travelling
=))" adalah PM ku di BBM hampir setahun ini. Beberapa orang berteman di
BBM pasti pernah membacanya. Alhamdulillah, beberapa target terpenuhi. Di 2014
ini, aku berhasil berkelana ke beberapa tempat luar biasa yang ingin aku kunjungi.
Januari
Liburan ini aku memilih Pare,
Kediri dari pada pulang ke Tanjungbatu. Keputusan berat memang, tapi aku
benar-benar ingin merasakan liburan yang berbeda. Di Pare selain belajar, aku
juga bertemu dan berkenalan dengan orang-orang dengan latar belakang budaya
yang berbeda. Sunda, Jawa, Bugis, Minangkabau, Melayu. Orang Ternate, Tidore,
Kalimantan. Semua berkumpul untuk belajar Bahasa Inggris, bahasa Internasional.
Global English, Female 6, keluargaku
selama satu bulan di Pare. Kak Kidung dan Kak Ria dari Manado, Nisa dari
Makassar, dan Kak Rosa dari Lamongan adalah teman sekamarku. Miss Melly dan
Miss Asna adalah tentor di asrama, Female 6. Lalu ada Kak Fitri dari Tidore.
Kak Fitri ini penulis, sudah lima buku yang ditelurkan. Ada Mbak Yana, Kak
Mira, Diah, dan banyak lagi yang rasanya tak mungkin aku sebut satu satu.
Semua tentor di Global English baik
dan ramah (bukan promosi lo, ya.. hehehehe..) Pare juga tak kalah
ramah dengan para tentor. Pare ramai dengan anak-anak hingga orang dewasa yang
bercuap-cuap berbahasa inggris, berjalan kaki, atau naik sepeda.
Namun ada satu yang sedikit aku
sesalkan. Aku gagal ke Gunung Bromo karena demam. Sesal hanya sesaat, SLG atau
Simpang Lima Gumul jadi saksi kebersamaan kami, yang tak ikut ke Bromo.
Parisnya Kediri. Bangunan seperti gerbang apik warna kuning. Ramai juga.
Setengah jam perjalanan naik sepeda motor sewaan.
Seminggu sebelum kembali ke Solo,
aku bertanya pada teman-temanku,"Ini minggu terakhirkan?" Bau
perpisahan menyeruak, sedih. Satu bulan ini, aku banyak belajar tentang rasa
kekeluargaan, kepercayaan diri, dan keberanian untuk masuk ke lingkungan yang
tak pernah aku masuk ke dalamnya.
Terimakasih atas satu bulan yang
menyenangkan, Pare, I'll never forget you, one day, I'll come with new
experience, new knowledge, and InSyaAllah, new status. #eh :D
Februari
"Pak, kawan Vina mau nikah
minggu depan. Rumahnya di Bandung, boleh datang?" Dengan hati-hati aku
minta izin kepada bapakku.
Yes, Acc! Bapak
mengizinkan.
Tiket kereta PP Solo Jebres -
Bandung, Bandung- Solo Jebres, sudah di tangan. Namun, malam sebelum aku
berangkat, Gunung Kelud di Kediri terbangun. Memuntahkan batu, abu, debu, dan
lahar dinginnya. Keesokan harinya Solo hujan abu, ketebalan abu sampai 1 meter.
Atap dan jalan tertutup abu. Udara tidak sehat. Semua orang memilih di rumah
atau keluar dengan memakai masker.Sore itu aku tetap berangkat sembari
menyaksikan abu yang menumpuk tinggi di sepanjang Solo-Bandung.
Aku mengingat tanggalnya, 16
Februari 2014, resepsi pernikahan Teh Uwi. Pagi itu, aku sampai di Stasiun
Kiara Condong di jemput Kak Wiji, lalu kami berjalan sampai ke rumahnya. Mandi,
dan beristirahat sebentar dan dilanjutkan ke Rancaekek. Kereta Api Lokal Kiara
Condong-Rancaekek dilanjutkan angkot ke sebuah perumahan, membawa kami sampai
di gedung resepsi Teh Uwi. Nuansanya ungu, lucu. Aku yakin, Teh Uwi tak
percaya, aku benar-benar datang ke pernikahannya.
Sore itu juga aku harus kembali ke
Solo. Di perjalanan, aku mendapat kabar buruk. Eyang-mertua bulekku- yang di
Solo menghembuskan napas terakhirnya. Aku tak dapat menangis. Dadaku sesak akan
penyesalan. Aku tak dapat di sampingnya di saat-saat terakhirnya.
Bandung-Solo seakan lama, aku tak
sabar ingin kembali, lalu memeluk jasad Eyang yang mungkin sudah dingin.
Maret
Tak ada travelling bulan ini, tapi
ada cerita seru bin aneh di ulang tahunku yang ke dua puluh. Aku sudah
menceritakannya di catatan facebook yang lalu. :D Yang jelas, aku bahagia punya
keluarga yang begitu baik di Solo ini. (Speechless)
April
Ketika penduduk di seluruh
Indonesia memilih calon legislatif, aku, April, Riyas, dan Chevita berkelana.
Menyusuri jalan Solo-Sukoharjo-Wonogiri untuk menemukan pantai-pantai di Gunung
Kidul Jogja. Baron, Krakal, Kukup, dan Indrayanti. Pantai adalah tempat
favoritku untuk melepaskan beban, menguapkan semua masalah yang mengganggu
pikiran.
Tengah bulan, Malang jadi tujuan.
Aku, April, Mbak Yesi, Mbak Ane, dan Viki melakukan perjalanan malam menuju
Malang. Malioboro ekspress yang akan membawa kami. Dilanjutkan dengan angkot
menuju Batu, Malang.
Setelah mendapat hotel, perjalanan
dilanjut ke Selecta, Kebun Bunga. Aku terpesona dengan bunga-bunga yang
berwarna-warni. Indah. Ekspresif. Aku menyapu wajah-wajah kagum akan keindahan
disekelilingnya. Semerbak ceria. Aroma romantis juga turut menyeruak. Muda-mudi
bergandeng mesra. Di sana, anak kecil berlari tanpa beban, riang. Aku
senyum saja melihatnya. Melempar kenangan ke masa lalu, saat aku juga pernah
berlari ringan seperti mereka.
Mbak Yesi tak sedap badan,
sepertinya keracunan pecel yang kami makan di Selecta. Tak cocok makanan. Tapi
malam ini, kami tetap keluar, Batu Night Spectakuler (BNS). Di sini, kami
menikmati lampion-lampion, mengabadikan kebersamaan dengan berfoto bersama. BNS
juga ramai, wahana-wahana ekstrim juga ada, tapi aku tak punya cukup keberanian
untuk mencoba di samping harus membayar lagi di setiap wahana. Aku tak bisa
bayangkan bagaimana tipisnya dompetku, jika aku tergoda.
Kami checkout pagi-pagi
sekali dari hotel, lalu jalan kaki menuju Jatim Park II. Mengagumi flora dan
fauna, menjajal Octopus dan Tsunami yang memacu adrenalin. Pengalaman kedua
setelah naik kora-kora sekaten yang memualkan. Tapi dua permainan itu tak
segila kora-kora, ku rasa.
Menjelang sore, kami turun ke Kota
Malang, berpose ria di depan Balai Kota Malang. Mbak Yesi sudah lebih sehat.
Wajahnya tak lagi pucat. lebih segar dan ceria.
Malamnya aku bertemu dengan seorang
teman lama. Izhar. Malang adalah tanah rantaunya, aku di ajak keliling
kampusnya sekejap. Jadilah. Sekedar menyapa, cukup dapat bernostalgia ke
masa-masa kejayaan, semasa MTs dulu.
Juni
Sebelum pulang ke Tanjungbatu. Ifa,
adikku datang. Kontrol jantungnya yang di operasi dua tahun lalu.
Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Kedatangannya tentu aku sambut gembira.
Aku ajak dia melihat Jumog, air terjun di Karanganyar. Aku ceritakan tentang
Candi Cetho dan Kebun Teh Kemuning, juga Telaga Mandirda. Aku tak dapat
membawanya ke sana. Viki demam, aku tak tega meninggalkannya lama-lama. Ifa
maklum saja. "Suatu hari nanti Ifa jalan-jalan sendiri,
Mbak,"katanya.
Tanggal 25 Mei, Lion Air dari
Semarang menuju Batam, membawa kami bersama di dalam badan besinya.
Setahun. Akhirnya aku pulang.
Juli
Hal yang tak akan aku lupakan di
bulan ini adalah, kepulangan Mbah Kakung, ke pangkuan Sang Robbi. Jumat, 4
juli, Mbah Kung tak keluar kamar. Aku menaruh sedikit curiga. Apalagi beberapa
hari terakhir Mbah Kung sedikit aneh. Tapi aku tak menggubrisnya,"maklum
sudah tua" jadi alibi untuk menolak keanehan-keanehan Mbah Kung. Mbah
masih puasa hari itu, full. Tapi waktu buka, mbah muntah-muntah. Setelah itu
mbah tidak mau makan sampai esok dipindah ke Puskesmas.
Aku tak akan pernah lupa, senyum
terakhir Mbah sebelum benar-benar pulang. Wajahnya teduh bercahaya. Wajah itu
tak akan pernah aku temui lagi nanti. Biasanya, Mbah Kakung adalah orang
pertama yang menyambutku pulang. Aku benar-benar terpukul dan kehilangan. Aku
belum bisa memberikan apa yang diinginkannya, menggendong cicit. Aku masih
kuliah, aku tak mungkin menyanggupinya. Kecuali aku meminta Mbah kakung tetap
sehat agar dapat menyaksikanku di pelaminan. Tapi Allah menakdirkan berbeda,
Mbah Kakung pulang sebelum aku sempat memenuhi keinginan terakhirnya.
Mbah akan melihatnyakan? Tahun
depan atau beberapa tahun lagi, dari tempatmu berada sekarang. Saksikanlah,
Mbah.
Kabar lain adalah kabar gembira.
Proposal beasiswaku tembus, 2 juta rupiah, lumayan untuk tambah-tambah
pembayaran SPP di semester depan. Aku harus mengambil sendiri ke kantor
gubernur di Dompak, Tanjung Pinang. Diantar Karyano dan Masirwan, aku dan
mamak, menikmati Tanjung Pinang dengan gempita.
Agustus
Mungkin rumah ini mengingatkan Mbah
Putri pada mendiang Mbah kakung yang telah tiada. Aku sendiri masih merasakan
ruhnya. Beberapa kali memimpikannya. Rindu menusuk-nusuk kalbuku. Meskipun aku
bersyukur ketika Mbah tengah berjuang melepas ruh dengan raganya, aku berada di
sana, membacakan Surat Yasin dengan air mata.
Tiba-tiba Mbah Putri bersimpuh di
dekatku dan berkata,"Mbah mau pergi lihat kebun"
Aku pikir kebun itu hanya kebun
yang tak jauh dari rumah. Ternyata aku salah. "Mbah mau ke Sungai
Puntian?" tanya adikku.
Mbah mengangguk. Aku terpana.
Sungai Puntian, satu jam perjalanan laut. Mbah mau tinggal di mana? Kediaman
Mbah yang di sana sudah hancur dimakan rayap.
Aku mendadak kaku, menyaksikan
dengan bisu langkah Mbah yang menjauh diantar Viki ke gerbang depan, menghentikan kendaraan umum
yang melintas untuk melakukan sebuah perjalanan.
Mamak dan Bapak tak tau akan
kepergian Mbah Putri ini, tentu rasa cemas menyelusup ke hati mereka, juga aku.
Tapi apa mau dikata, kemauan Mbah Putri tak bisa ditolak, atau seperti ini, dia
akan pergi diam-diam.
Oktober
Mbah Putri sampai di Pulau Jawa, di
Solo. Aku tak bisa membayangkan perjalanan yang sudah ditempuh Mbah Putri
selama dua bulan ini. Sungai Guntung, Sungai Puntian, Topang, Tanjung Samak,
Selat Panjang, Pekan Baru, Dumai, dan terakhir Solo. Ah, jiwa jalan-jalan ini
aku rasa titipan dari Mbah. Beliau mewariskannya padaku. Itu juga jadi alasan
telak kalau Mbah Putri protes, "Vina ini kok jalan-jalan mulu."
Aku akan jawab,"Kan cucunya
Mbah Putri." Jawaban yang hanya dibalas dengan tawa.
Mbah Putri menceritakan inginnya,
Magelang, jogja, Salatiga, Surabaya, Rembang, jakarta. Semua tempat yang ingin
dikunjunginya. Sepertinya Mbah Putri akan lama di tanah Jawa. "Sampai Vina
wisuda,"katanya. Padahal kemungkinan untuk mengunjungi kota-kota itu kecil
sekali, mengingat kondisi Mbah Putri yang sedikit memprihatinkan. Badannya
telah lemah.
November
Liburan berkedok kunjungan. Balai
Hiperkes Jakarta. Destinasi tempat belajar. Aku belajar mengendarai Crane
Kelabang. Asyik. Tapi aku tak sempat megendarai forklift, waktu menjadi
penghalang.
Sore ini, rombongan melanjutkan
perjalanan ke Bandung. Hotel tempat kami menginap tak jauh dari kosnya Putri,
sahabat baikku. Aku menghubunginya. Kami sempat bercengkrama sekejap di teras
hotel. Bercerita hingga larut malam.
Keesokan harinya, perjalanan di
lanjut ke Cibaduyut dan Transstudio Bandung.
Aku menjajal beberapa wahana, tapi
Roller Coaster, aku tak dapat mencicipinya. Bandung di guyur hujan deras.
Terselip kecewa, tapi bisa apa? Semua untuk keselamatan bersama.
Akhir November ini, aku bertemu
lagi dengan keluarga baru. Kampus Fiksi 10 yang diadakan Diva Press. Satu Kamar
berdelapan, tidur sudah seperti sarden kaleng. Hangat. Banyak yang aku dapat,
ilmu, teman, keluarga, dam lima puluh buah lebih buku. Mereka yang sangat keren
ketika menulis. Aku, jujur saja. Hatiku ini kecil sekali, mudah minder, mudah
jatuh. Tapi aku yakin, aku bisa sekeren mereka dengan berusaha keras dan
semangat!
Desember
Ah, Dieng seharusnya jadi penutup
agenda travelling terakhir 2014 ini. Apa daya, acc Bapak tidak turun. Cuaca
yang buruk jadi kendala, dikhawatirkan longsor. Akhirnya Jogjakarta jadi
pilihan. Prambanan dan Ratu Boko tujuannya. Aku sudah merasa cukup berada di
sana. Penutup yang manis di akhir 2014.
Lebih manis lagi, 30 Desember 2014,
setelah mengintip sekejap di Toko Jilbab Robbani, Palur. Aku mengalami sedikit
kecelakaan. Mungkin ini sebagai pengingat. Spionku tertarik spion pickup.
Aku hanya bisa istigfar dan menyebut asma-Nya, batinku bertanya,"benarkah
aku sedang mencium aspal?"
Mungkin kalau aku tidak disadarkan
dengan seorang ibu, aku masih dalam posisi bersujud di jalan. Untung saja
jalanan sepi, seandainya ada bis jurusan Jogja-Surabaya yang terkenal ganas
itu, mungkin aku telah menyusul Mbah Kakung, tidur panjang di sebelahnya.
Alhamdulillah aku selamat, hanya luka lecet di punggung kakiku dan biru-biru
sedikit di paha kananku.
Semua hingga luka. Jadi kenangan
terindah di 2014.
Semoga 2015 lebih baik lagi.
Target tercapai. Bisa nyambung
travelling.
Dieng, Bali, Lombok, Karimun Jawa,
belum aku sambangi.
Natuna dan Anambas, belum aku
jenguk.
Suatu hari nanti, aku pasti akan ke
sana. Aku yakin.
Tahun 2015...
Magang lancar, Tugas Akhir lancar,
Sidang lancar.
Wisuda.
Lalu kata"mu" yang
seperti "janji" itu juga lancar.
Ingat? Sebelum Ramadhankan?
Hehehehe
Aaamiiin....


satu tahun yang penuh cerita (y) :)
ReplyDeletebetul betul :D
ReplyDeleteVisit http://karyabuatanku.blogspot.com :D
ReplyDelete