Ayah (#FiksiBeruang)

Malam telah larut. Pijar bintang-bintang telah tampak dari kamarku yang memiliki atap kaca. Semua sudah terlelap. Aku juga hampir tertidur. Namun suara gaduh dari kamar sebelah membuatku sulit terpejam.
Aku tinggikan cuping telingaku. Suara tangisan ibu yang mulai serak dan suara garang ayah sedang membujuk ibu. Aku menghela napas panjang. Ini malam ketiga ayah dan ibu bermesraan dengan kasar.
Aku menarik selimutku hingga menutupi wajah. Meringkuk sambil memeluk guling bersampul panda kesayanganku. Aku membujuk mataku yang masih membulat lebar agar mau tertutup. Gagal.
Aku mendengar suara lain. Suara pintu kesakitan dan langkah-langkah cepat dua pasang kaki orang dewasa. Keduanya diiringi isakan ibu yang seperti menyeret langkahnya. Aku lirik jam Hello Kitty di dinding, pukul 2 pagi, masih terlalu pagi untuk mulai membuat sarapan.
Perasaan dingin dan tak nyaman mulai merambat ke jiwaku. Segera aku melompat dari tempat tidur, berusaha meraih pintu kamar secepat mungkin. Aku berlari ke ruang tamu, menghampiri ibu yang tengah meratap, menatap punggung ayah yang menjauh dengan tas plastik warna hitam digenggamnya.
Aku menarik-narik  ujung daster ibu. “Ayah mau ke mana, Bu?” tanyaku polos.
Ibu terkejut dan mengusap airmatanya, mendekapku di perutnya yang telah sembilan bulan membesar, dan berkata lirih,”Kerja.”
***
Sepuluh tahun berlalu sejak kepergian ayah. Aku tentu sudah tidak sepolos dulu. Saat aku percaya saja pada ibu bahwa ayah pergi untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Padahal aku tau, selama ini ibu yang banting tulang untuk menghidupi aku dan adikku.
Aku sudah bosan menunggu kepulangan ayah. Terlebih dengan pertanyaan orang atau sekedar gunjingan tentang ayah. Aku sudah tau semuanya. Ayahku seorang buron, seorang korup. Seorang brengsek yang tak pantas ku sebut ayah.
Lelaki tua sialan itu telah tega meninggalkan ibu, aku, adikku, dan hutang. Dia melepaskan semuanya dan membiarkan ibu berjuang untuk melunasi semua kekacauan yang ayah timbulkan.
Aku tak akan pernah lupa ketika ayah pergi atau seminggu setelah itu, saat ibu berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan adikku seorang diri. Kala itu, aku yang berumur tiga setengah tahun berlari ke tetangga dengan berderai air mata. Mengetuk pintu demi pintu untuk datang menolong ibuku yang tengah kesakitan. Beruntung tetangga-tetanggaku bersedia memanggil bidan untuk membantu proses persalinan.
“Ayahmu mana, Al?” tanya Pak Kasdi tetangga sebelah rumahku.
“Pergi kerja, Pak,” jawabku pelan.
Jawaban ayah pergi kerja ke luar pulau adalah jawaban paling logis yang dapat diterima setiap orang yang bertanya ke mana ayahku.
Aku selalu iri pada teman-temanku yang diantar oleh ayahnya ke sekolah, tamasya bersama, atau sekadar mendapat baju, tas, atau mainan baru dari ayah mereka. Aku hanya bisa menelan ludah dan tersenyum saat melihat teman-temanku memamerkan setiap pemberian ayahnya.
Dunia seperti tidak adil padaku dan adikku. Adikku, sejak dia lahir sampai hari ini, satu kali pun tidak pernah merasakan hangatnya dekapan ayah meskipun aku sendiri lupa bagaimana rasanya.
Pernah adikku menangis dan memeluk ibu. Dia berkata,”Bu, aku ini punya ayah atau tidak? Ayah kenapa nggak pulang-pulang? Ayah nggak sayang kita?”
Ibu hanya berurai air mata. Tidak berkata satu patah pun. Pertanyaan adikku, tak ibu jawab sampai sekarang.
Aku tau ayah belum mati, tapi aku menganggapnya telah tiada. Aku merasa tak pernah punya ayah. Aku membencinya. Kebencianku muncul ketika sekelompok orang berjaket kulit bertandang ke rumahku lima tahun lalu.
“Benar ini rumah Bu Sinta?” tanya salah satu dari mereka, sangar.
Aku perhatikan bapak ini dengan seksama. Tubuhnya tambun, umurnya sekitar 40 tahun, kumis hitam melengkung di atas bibirnya membuat dia terlihat sangat seram. Aku perhatikan lagi teman-temannya, ada tiga orang. Semua dengan wajah garang. Dua orang di antaranya memiliki kepala sulah yang hampir botak.
“Benar, Pak.” Jawabku dengan suara gemetar. Nyaliku ciut juga.
“Ibumu ada di rumah?” orang tua di sebelah bapak tambun itu bertanya. Tubuhnya lebih tinggi sedikit dari yang lain. Suaranya terdengar lebih lembut dari bapak pertama yang bertanya. Aku pun mulai bisa menguasai diri dan menjawab pertanyaan bapak itu dengan anggukan kepala.
 Tanpa perlu diperintah, aku persilakan bapak-bapak itu masuk. Aku berlari menuju dapur, menghampiri ibuku yang sedang mengoseng sayur kacang.”Ibu, ada tamu.”
“Siapa?” tanya ibu.
Aku menggeleng dan bersiap untuk menggantikan posisi ibu. Tetapi ibu mematikan kompor, menggandeng tanganku, dan mengajakku menuju ruang tamu.”Temani Ibu saja,” kata ibu.
Aku hanya diam ketika ibu berbincang-bincang dengan empat orang asing itu. Aku perhatikan mereka satu persatu, bapak tambun itu bernama Joko sedangkan bapak yang bersuara lebih lembut namanya Somat, yang memiliki sulah Pak Gery dan Pak Noto. Wajah mereka berempat serius, sepertinya mereka tak pernah tertawa.
“Begini, Bu. Kedatangan kami ke mari ingin menagih hutang dari Pak Sulaiman.”
Hutang? Pak Sulaiman? Ayah? Aku perhatikan wajah ibu yang berubah pucat. Rona khawatir mulai terlihat di setiap kerutannya.
“Tapi saya sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi dengan Sulaimain, Pak, kami sudah bercerai,” jawab ibu hati-hati. Tangan ibu berpegang erat pada tanganku yang mungil.
Aku tertegun. Bercerai?Ibu dan ayah telah bercerai?
“Maafkan kami, Bu. Tapi di surat perjanjian tertera bahwa jika Sulaiman tak bisa melunasi hutang-hutangnya sampai lima tahun, Ibu yang menanggung semuanya.” Pak Noto menyodorkan amplop yang disambut oleh ibu. Tangan ibu bergetar, kedua matanya mulai mengembun, ditelitinya surat perjanjian itu dengan seksama.
“Ini perjanjian sepihak, Pak. Saya tidak pernah menandatangani surat ini. Ini jelas penipuan.” Ibu sesegukan. Air matanya tumpah membasahi pipinya yang mulai keriput. Aku memeluk tangan ibu kuat-kuat.
“Maaf Bu, perjanjian tetap perjanjian. Kalau Ibu tak sanggup membayarnya, Ibu serahkan saja sertifikat rumah ini untuk melunasinya. Setelah itu Ibu boleh pindah atau tetap tinggal di sini dengan membayar sewa. Kami permisi, Bu.”
Derap langkah kaki-kaki garang keluar dari rumah.  Aku masih bingung, tak mengerti apa yang terjadi.”Kita harus pindah, Al.” Ibu mengusap air matanya.
“Ibu ingin melupakan semua yang terjadi di sini. Melupakan ayahmu. Maafkan Ibu, Al. Kau masih kecil tapi sudah harus menerima kenyataan pahit seperti ini. Bersiaplah, nenek dan kakek akan dengan senang hati menerima kita di rumah mereka.”

Sejak saat itu hingga sekarang aku tak pernah tau bagaimana kabar ayahku, aku lupa wajahnya, dan aku tidak ingat bahwa seharusnya ada lelaki yang juga membesarkanku yang aku panggil ayah.

Comments

Popular Posts