Sepotong Nasehat dari Ibu
Aku tengah memanasi beat putihku ketika ibu kos mendekat dan mengajakku
bercakap-cakap. Percakapan singkat. Seperti ibu dan anak kandungnya. Ibu kosku-di sini, aku akan menyebutnya ibu- memang gemar sekali ngobrol. Saat itu
aku duduk nyaman di atas motor dan ibu kosku berdiri
menyandar di pagar rumahnya.
“April sudah sampai rumah, Vin?” tanya ibu.
April-saudara satu kosku- memang dijemput orang tua kandungnya semalam. Penyakit
herpes atau dompo yang dideritanya sudah hampir dua minggu ini tak kunjung
sembuh. Sewajarnya sebagai orang tua khawatir dan memutuskan untuk menjemput
anaknya pulang ke rumah, merawat hingga sang anak kembali sehat.
“Sudah Bu,” jawabku.
“Tapi akhir minggu ini saya sendirian, Bu. Semuanya pulang. Mbak Aan, Mbak
Lili, Diana, Mbak Yesi, Bu Tatik.” Aku sebut satu-satu nama saudara satu kos ku
yang kembali ke surga mereka. Rumah kandung.
Beginilah nasib anak rantau yang harus menempuh perjalanan darat, udara,
dan laut untuk sampai ke surga. Satu tahun sekali dapat pulang saja sudah
anugerah.
Albert, anak sulung ibu keluar dari rumah. Menghentikan motornya tepat
dibelakangku. Memainkan gas Honda Revo miliknya. Sepertinya dia akan berangkat
kuliah. Ransel hitam yang digendongnya sebagai bukti. Tapi kehadirannya tidak
membuat aku dan ibu berhenti dan mengakhiri percakapan.
“Viki gimana? Sudah betah di kos barunya?” tanya ibu.
Aku menganggukkan kepala dan berkata,”Sudah, Bu. Kos yang sekarang
kayaknya lebih nyaman dari yang dulu.”
Setahun yang lalu, Viki, adikku,
juga pernah tinggal di rumah ini. Persiapan SNMPTN, dan sejak tulisan LULUS tertera
di surat pengumuman kelulusan SNMPTN di UIN Sunan Kalijaga, Viki pindah ke
sana.
Kalau rumah kandung adalah surga,
rumah kosku ini adalah taman bunga untukku. Keramahan ibu, bapak, kedua anak
kandungnya, juga saudara-saudaraku di kos ini, telah membuat aku tak dapat
mengelakkan bahwa mereka juga berharga.
“Syukur deh. Saya juga senang kalau Viki betah di sana. Jadi kan tak jadi
pikiran orang tua. Saya sendiri kalau Gabby sms hanya bun titik-titik-titik,
perasaan saya tidak enak. Pasti ada apa-apa dengan dia pasti dia sakit.”
Ibu menghela napas cukup panjang. Matanya menerawang ke arah bunga wijaya
kusuma yang baru mengembang semalam. Warna putih. Cantik. Aku juga mengagumi
keindahannya.
“Makanya, ibu kasih tau ke kamu dan anak-anak kos ibu yang lain. Kalau
sakit atau ada masalah. Coba diselesaikan sendiri dulu. Jangan mengeluh pada
orang tua. Orang tuamu pasti bingung. Kepikiran. Pasti itu. Kalau punya kakak
atau adik, ceritakan dulu dengan kakak atau adik, kalau sudah mentok, nggak
dapat solusi, baru ceritakan ke orang tua.”
Aku manggut-manggut, setuju dengan nasehat ibu kosku. Sekelabat terbayang
wajah bapak dan mamak. Lelahnya mereka mendengar keluhanku, tak pernah
ditunjukkan. Dan mereka, tak pernah mengeluh apa pun padaku.
Albert melajukan motornya. Kencang. Ibu terperanjat, spontan
mengurut-urut dada, menggelengkan kepalanya, dan berkata, “Ya, ampun.”
Aku tersenyum simpul. Mataku melirik ke arah jam merah jambu di tangan
kiriku. Sudah pukul 08.00, aku hampir terlambat. Dengan hati-hati, aku pamit
kepada Ibu. “Vina berangkat juga ya, Bu.”
Ibu menyilakanku berangkat dengan doa mengalir dari mulutnya.
Surakarta, 5 Desember 2014


Comments
Post a Comment