Gulali Merah Jambu
“Kamu yakin nggak pengen gulali ini, Ga.” Tania menatapku sambil memakan
gulali merah jambu di tangannya dengan lahap.
Aku menggeleng, “Takut sakit gigi.”
“Enak lo ini, kamu tau nggak kalau manusia itu kayak gulali.”
“Mmmm.. Karena manis?” Aku coba menebak jawabannya.
“Salah. Karena kalau nggak ditutup rapet, bakal masuk angin. Hahaha.”
Tania tertawa manis sekali. Aku ikut larut dalam candanya, tertawa bersamanya.
“Tan, kamu jadi mau kuliah di Solo? Kenapa nggak di Jogja aja sih.”
“Jadilah. Kamu kan tau aku sudah diterima di sana, sayangkan kalau
dilepas. Bisa masuk UNS itu sulit loh.” Tania berargumen.
“Lagi pula Jogja-Solo nggak jauh kan, Ga.”
Aku terdiam. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, menyatakan
persetujuanku.
Sekolah sudah semakin sepi, mamang penjual gulali juga telah pergi,
kembali berkeliling untuk mencari rezeki. Gulali merah jambu, permen kapas ini
yang akan membuatku selalu mengingat Tania, tawa, canda, dan senyumnya.
***
“Ga, kamu bisa telepon? Ada hal yang pengen aku bicarain. Penting.”
Sms dari Tania ini mengejutkanku. Tidak seperti biasanya Tania mengirimkan
pesan seperti itu. Ini adalah minggu kedua kami menjalani Longdistance
Relationship, atau kerennya LDR. Perasaan ku tidak enak. Apa mungkin Tania
punya pacar baru?
Aku menekan tombol 1 di handphoneku,
nama Tania muncul bersama dengan fotonya dan gulali merah jambu.
“Kamu kenapa, Tan?” Tanyaku setelah salamku dijawab olehnya.
Tania menghela napas panjang. “Ga, aku minta maaf dan terimakasih sekali
kepadamu.”
Aku diam. Aku biarkan Tania melanjutkan bicaranya. Tania tidak pernah
suka disela.
“ Aku rasa tidak sepantasnya kita seperti ini. Aku tau Ga, kita sudah
berpacaran sejak kelas 1 SMA dan tahun ini adalah tahun ketiga kita sama-sama.
Tapi ternyata ini belum waktu yang tepat. Aku tau, kamu tak pernah macam-macam,
kamu begitu menghormati aku sebagai wanita. Tapi godaan syetan Ga, aku takut
kita tergoda.”
“Ga, aku ingin kita sudahi main-main kita. Aku yakin kamu setuju
denganku. Kita ubah pola pikir kita. Kita berpisah bukan berarti kita tak akan
sama-sama. Percayalah Ga, kalau Allah telah menentukan kamu sebagai jodohku,
kita akan bersama. Biarkan tangan Allah yang bekerja. Sekarang aku ingin
memperbaiki diri aku, aku ingin berubah, aku ingin belajar menjadi wanita
sholehah, memperbaiki diri, dan berusaha untuk mengejar cinta yang hakiki,
cintanya Allah.”
Aku tercekat, aku tak dapat melakukan penolakan, inginnya Tania, inginku
juga. Meskipun hatiku berontak tapi logikaku menangkap hal baik dari kemauan
Tania. Aku menyatakan persetujuanku. Dalam hati aku berjanji, aku akan
menjemput Tania dan meminangnya untuk melengkapi hidupku dan ibadahku kelak.
Satu pesan masuk ke emailku, secarik puisi dari Tania.
Haga
Kau tau rasanya luka? Aku tidak.
Kau tak pernah mengajarkannya.
Kau tau rasanya merana? Aku lagi-lagi tidak.
Kau tak pernah mengenalkannya.
Tapi aku dirundung ketakutan.
Ketika saat nanti cintaku padamu semakin
besar
Lalu aku lupa, seharusnya cintaku pada Allah
lebih besar
Kalau Allah murka, aku mau jadi apa?
Haga
Kalau Allah berkehendak kita bersama
Kita akan bersama. Tapi tidak sekarang
Nanti, ketika tiba saatnya
***
5 tahun berlalu, aku masih sama. Rasaku masih untuk Tania, gadis gulali
merah jambu. Meskipun aku tidak menyukai gulali, tapi melihatnya, membuatku
selalu mengingat Tania.
“Melamar Tania?” Ayahku terkejut.
Ayah kembali bertanya ”kau yakin sudah mampu?”
Pertanyaan itu aku jawab dengan anggukan mantap, “Iya,Yah. Haga rasa
sudah saatnya Haga memulai hidup baru, menyempurnakan ibadah Haga.”
“Lalu kenapa kau memilih Tania?” Tanya ayahku lagi.
“Haga dan Tania memang pernah bersama lalu putus, tapi tidak cinta Haga
pada Tania. Kami putus bukan karena apa-apa, tapi karena kami ingin menjaga
diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Kami ingin mendekatkan diri pada Sang
Khalik dan kami juga tau belum saatnya
kami mengumbar cinta pada masa-masa seperti itu. Tapi Haga percaya, kalau Allah
menghendaki kami bersama, berjodoh, kami akan bersatu, saling melengkapi dalam
pernikahan.”
“Karena itu Yah, Bu, bantu Haga. Lamarkan Tania untuk Haga, InSyaAllah
Tania akan menjadi menantu yang baik untuk Ayah dan Ibu.” Aku berusaha
meyakinkan kedua orangtuaku.
Aku telah melalui istikhoroh panjang untuk memantapkan hatiku ketika aku
memutuskan untuk melamar Tania. Aku telah meminta pendapat ibu seminggu yang
lalu, ibu setuju. Meskipun aku belum menyampaikan niatku langsung pada ayah,
aku baru akan menyampaikannya setelah aku benar-benar yakin dengan keputusanku.
Malam ini aku telah mantap dengan keputusanku. Karenanya aku beranikan
diri mengajukan proposal kepada ayah dan ibuku dengan harapan semoga ayah dan
ibu mau menyampaikan proposalku kepada orangtua Tania.
Aku pandangi ayah, rambutnya telah memutih, hanya beberapa helai saja
yang berwarna hitam. Wajahnya yang mulai keriput tampak berpikir keras. Aku
palingkan wajahku ke arah ibuku, ibu tersenyum. Senyumannya meneduhkan. Aku
menjadi sangat tenang.
“Baiklah, Ayah dan Ibu akan meminta Paman Zein menghubungi orangtua
Tania. Karena Paman Zein lebih mengenal orangtua Tania daripada ayah dan ibumu
ini. Seandainya besok Paman Zein dan kedua orangtua Tania tidak sibuk, besok
Ayah dan Ibu akan silaturahim ke rumah Tania.”
Aku tersenyum cerah. Ucapan terimakasih tak henti mengalir dari mulutku.
Wajah Tania dengan gulali di tangannya menggangguku. Aku begitu bahagia.
***
Aku tidak ikut ke rumah Tania. Sejak Ayah dan Ibu berangkat selepas Isya
tadi, hingga sekarang pukul 9, aku masih menunggu di ruang sholat, gelisah.
Mulutku tak henti berzikir, hatiku tak henti berharap. Semoga ketetapan Allah
sama dengan inginku. Semoga orangtuaku pulang membawa kabar gembira.
Terdengar suara motor revo masuk ke dalam halaman rumah. Pintu pagar
berderit, sayup aku dengar ibu mengucapkan salam, aku menjawabnya pelan. Langkah-langkah
mereka terdengar menuju ke arahku. Setiap langkahnya seperti mewakili jantungku
yang berdebar tak karuan, dag dig dug, dag dig dug. Aku memegang lututku
erat-erat.
Tirai penutup ruang sholat tersibak.
”Ga.” Ayah memanggilku dengan hati-hati.
Aku tatap wajahnya, ada raut kekecewaan di sana. Aku menghela napas
panjang. Aku seperti tau apa jawabnya.
Ibu duduk di samping kiriku, menggenggam tanganku erat. Aku yang sedang
berusaha kuat, aku tak ingin menangis di depan ayah dan ibuku.
“Kau harus bersiap. Sebentar lagi kau akan diangkat menjadi pemimpin. Kau
akan jadi suami Tania dan ayah bagi cucu-cucu ibu.” Ibu berbisik kuat.
Aku terpana, air mataku benar-benar tumpah. Ini air mata kebahagiaan.
Syukur tak henti aku ucapkan. Aku peluk erat tubuh ibu yang mulai renta, aku mengangguk
ke arah ayah. Ayah tersenyum mengembang, wajahnya cerah bahagia.
Aku ingin marah, untuk hal-hal penting seperti ini, Ayah dan Ibu masih
saja bercanda. Tapi aku tak dapat berkata apa-apa.
“Ingat nasehat Ayah, Haga. Pernikahan adalah hal yang sangat sakral.
Agama kita memang memperbolehkan seorang lelaki memiliki 4 orang istri, tapi
ayah harap, kau tidak berpoligami. Jadilah suami yang baik, ayah yang baik,
pemimpin yang baik untuk keluargamu. Jadikan pernikahan sebagai ibadah,
penyempurna ibadahmu.”
Aku mengangguk mantap. Nasehat Ayah akan selalu ku ingat.
“Seminggu lagi kita akan ke rumah
Tania. Melamar secara resmi dan menentukan tanggal ijab, resepsi, dan
lain-lain.” lanjut Ayah.
“ Tania semakin cantik, Haga. Wajahnya bersinar. Ibu yakin kau tak salah
pilih. Dia masih mengenal ibu dan ayah. Dia juga menunggumu, padahal sudah
beberapa lelaki datang melamarnya.”
Kebahagiaanku semakin membuncah. Tania juga masih memiliki hasrat yang
sama denganku. Aku teringat percakapan dengan Tania beberapa tahun yang lalu.
Makan gulali itu seperti hidup, semakin lamban kau memakannya maka gulalimu
akan habis. Sama seperti hidup, semakin kita menyia-nyiakan suatu kesempatan,
maka kita nggak akan dapat apa-apa. Dan kesempatan untuk hidup bersama Tania
tak akan aku sia-siakan.
“Kau mau bawakan apa untuk Tania ketika kita akan melamarnya minggu
depan?” tanya ibu.
“Gulali, Bu. Gulali
merah jambu.”


Comments
Post a Comment