Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta
Matahari yang sama seperti empat
tahun lalu. Aku Eka Zhafira, empat tahun yang lalu, aku terbang ke Amerika
untuk menyelesaikan studiku. Sekarang aku telah duduk manis di Garuda
Indonesia, aku kembali untuk mengabdi kepada Indonesia, negeriku tercinta.
Kuliah di Amerika, mungkin semua
orang akan beranggapan kalau aku berasal dari keluarga yang berpunya. Nggak,
aku dari keluarga sederhana, berkecukupan, dan harmonis. Aku anak pertama dari
dua bersaudara, adikku Fatih Adhly sekarang duduk di kelas 12 di salah satu SMA
Negeri di Depok. Sama dengan sekolahku dulu. Ayahku bekerja sebagai guru SD dan
ibuku ibu rumah tangga. Beasiswalah yang membawaku sampai ke negeri Paman Sam.
Aku ingat, dulu, semua orang
merendahkan cita-citaku untuk kuliah di Amerika. Tapi aku bisa buktikan, aku
bisa kuliah di sana. Meskipun hidupku penuh dengan kepayahan dan aku tak pernah
pulang selama empat tahun. Tak selamanya aku kuat, terkadang aku hampir
menyerah, tapi wajah Ayah, Ibu, Fatih, dan Rian selalu terbayang.
Rian, sahabatku sejak kecil. Aku
rindu sekalinya padanya. Meskipun selama ini aku tak pernah putus kontak sama
dia. Lewat Rian, aku bisa komunikasi dengan orang tua dan adikku, tanpa harus
mengeluarkan biaya mahal telepon. Cukup pasang modem di laptop, dan aku bisa
melihat wajah-wajah yang ku sayang. Aku bersyukur hidup di era modern seperti
sekarang.
Rian, dia yang selalu
menyemangatiku saat aku berada diposisi paling lemah sekalipun. Dia selalu jadi
orang pertama yang ngucapin “Happy Birthday My Little Best Friend”, dia yang
pertama menjengukku saat aku sakit, dia yang pertama ngucapin selamat tiap aku
dapat 3 besar dikelas, dia yang pertama aku cintai. Ya, diam-diam aku mencintai
sahabatku.
Aku pernah hampir
mengungkapkannya, ingatanku melayang. Kelas dua SMA, aku jatuh dari motor,
diserempet dari samping, yang nyerempet langsung pergi meninggalkanku. Lalu
Rian yang pertama menolongku, membantuku bangun, memapahku kepinggir.
“Ka, kamu nggak apa-apakan?
Makanya kalau naik motor hati-hati, jangan sembrono.” Tanyanya sambil memarahiku.
Aku cuma meringis.
“Untung jalannya sepi, coba kalau
ada mobil dari belakang, bisa mati kamu.” Dia masih saja memarahiku.
Memang tak ada kendaraan lalu
lalang ketika itu. Meskipun rumah kami berdekatan, tapi aku dan Rian tak pernah
berangkat sama-sama. Dia selalu berangkat dengan sepupunya Arman. Aku tak terlalu dekat dengan Arman, apalagi
sejak kejadian dia menyatakan perasaannya padaku kelas satu dulu. Aku selalu
menghindarinya.
“kenapa kamu tidak menerimaku Ka?
Apa karena Rian?” Tanya Arman waktu itu.
“Bukan itu Man. Aku ingin fokus
belajar. Aku mau kita berteman seperti biasa saja. Nggak perlu pacaran-pacaran.
Aku nggak mau ngecewain orangtuaku. Aku ingin memberikan teladan buat adikku.”
Aku berbohong, karena Arman benar alasanku karena Rian, aku mencintai Rian.
“Ya udah, kamu pulang sama aku.
Biar Arman pulang sendirian. Kaki kamu kan sakit ketimpa motor” Tawar Rian, aku
hanya mengangguk,dan mengikuti Rian naik keatas motorku.
Aku deg-deg an. Lalu aku
kepikiran untuk berta” Yan, aku boleh tanya?”
“Iya, tanya apa?”
Aku berpikir sejenak, “Kenapa
kamu care banget sama aku?” Tanyaku terbata-bata.
“Karena aku sayang kamulah, Eka
Zhafira.” Jawabannya membuatku tersentak.
“Sayang?” Aku mengulangi
kata-katanya lagi.
“Iya sayang, kan kamu sahabat kecilku
yang terbaik.”
Hanya o yang keluar dari mulutku.
Aku tak berani mengungkapkan perasaanku padanya.
Aku tersenyum sendiri di dalam
pesawat. Sambil memandang langit biru yang terlihat sangat luas dan indah.
Betapa besar kuasa-Nya.
Aku terbangun ketika pramugari
mengatakan bahwa sebentar lagi pesawat mendarat. Jam 10 pagi, sesuai perkiraan
Rian. Aku segera bersiap. Aku dijemput dengan Ayah, Ibu dan Rian.
“Ayah, Ibu, Rian.” Aku
melambaikan tangan kearah mereka. Senyum mengambang dibibirku, air mata jatuh
dipelupuk mataku, aku terharu. Rindu yang telah menggebu, kini terobati.
“Kamu semakin kurus saja Ka.”
Ayah mengomentari perubahanku.
“Iya, jadi nggak kelihatan sudah
cumlaude di Amerika, kayak masih SMP aja kamu.” Rian ikut berkomentar sambil
meledekku.
Aku cemberut,”Huuu.. awet muda
kan? Nggak kayak kamu. Emangnya kuliah di Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Universitas Indonesia sangat memumetkankah?
Sampai kamu terlihat begitu tua.” Aku balas meledeknya.
“Nggaklah, ganteng gini, di
bilang tua.” Rian tidak terima. Tapi dia memang jadi lebih ganteng, tinggi, dan
kekar. Aku semakin terpesona.
Ayah dan ibu senyum-senyum saja.
Membiarkan aku dan Rian saling ledek, sampai kami tiba dirumah.
“Makasih ya Yan, maaf
ngerepotin.”
“Iya Pak, saya juga senang bisa
jemput sahabat saya yang masih saja kecil ini.” Aku mendelik kearah Rian.
“Saya pamit Pak, Bu, dadah kecil.
Assalamu’alaikum.”
Rian menghilang dari pandangan.
Kecil, dia selalu memanggilku begitu, sejak smp dulu. Tinggiku memang nggak
sampai 155 cm, dan di Amerika sana, sangat sedikit sekali yang memiliki tinggi
sepertiku. Jadi bisa kamu bayangkan kan?
“Yan, aku dapat panggilan di
Astra.” Aku segera menelepon Rian. Aku tak
bisa menyembunyikan kebahagiaanku.
“Seriusan? Berarti kita bisa
berangkat bareng dong kerjanya.”
Aku diterima di Astra, sebagai
assisten untuk pengawasan kesehatan kerja pegawai. Rian, dia di bagian
keselamatan kerjanya. Aku merasa bahagia sekali, aku bisa berada di satu tempat
yang sama lagi dengan Rian. Aku segera berlari keluar kamar, mengabarkan kabar
gembira ini ke ayah, ibu, dan Fatih.
Sebulan berlalu, begitu cepat.
“Ka, aku pengen curhat.” Rian
tiba-tiba datang kemeja ku saat jam istirahat.
“Apa?” Tanyaku.
“Aku udah mau cerita dari dulu.
Tapi aku takut kamu ngejek aku.”
“Apaan si Yan?” Aku penasaran.
Aku lihat matanya.
“Dari dulu, dari jaman kita SMA,
aku suka sama cewek. Tapi aku bingung gimana cara ngungkapinnya. Waktu lulus,
aku pikir aku bisa lupa sama dia, dan bisa coba suka sama cewek lain. Tapi
ternyata aku nggak bisa.” Rian menunduk, malu-malu.
Aku terkejut, deg-degan. Aku
berharap, wanita itu aku.
“Sekarang aku dekat lagi sama
dia, Ka. Menurutmu aku harus gimana?” Tanyanya.
Aku terdiam, ada secercah harapan
yang datang. Aku benar-benar berharap itu aku. “Cewek itu jomblo nggak?Kamu
udah kenal sikap da sifatnya belum?”
“Dia jomblo kok, dan aku sudah
mengenalnya. Dia baik, perhatian, dan cantik.” Rian seperti memujiku.
Aku semakin antusias, aku semakin
berharap,”Dekati dia lagi, terus tembak aja, sebelum diambil orang. Hehehe.”
“Aku takut di tolak.” Rian
berkata lirih.
“ Hahaha, ngapain takut ditolak
Yan. Kalau kamu sampai ditolak dengan cewek, berarti cewek itu bodoh, udah
nyianyiain kesempatan, dia mungkin nggak bakal nemuin cowok yang sayang sama
dia, ganteng, dan pengertian kayak kamukan?” Aku geli juga mendengar
kata-kataku yang memuji Rian terlalu berlebihan.
“Kalau cewek itu ternyata aku Yan. Aku nggak akan mungkin menolak
cintamu. Karena aku juga punya rasa yang sama”.
Agenda rapat, penilaian,
pengukuran, dan evaluasi risiko penyakit
akibat kerja di kantor sangat padat akhir-akhir ini. Sudah saatnya audit dan
inspeksi dari atasan, tak ada waktu untuk istirahat. Seperti siang itu, rapat
mengenai evaluasi risiko getaran dilakukan. Rapat selesai tidak tepat pada
waktunya. Keluar dari ruang rapat, kepalaku mendadak sakit sekali. Ruangan
serasa berputar, lalu tiba-tiba semuanya gelap.
“Akhirnya kamu sadar Ka.” Anita,
wajah pertama yang aku lihat. Raras, Dion, Martin, dan Satya juga ada di
ruangan. Ruangan yang tak asing, tapi aku lupa.
“Aku dimana nih?” Tanyaku entah
pada siapa.
“Kamu di klinik Ka. Tadi mendadak
kamu pingsan. Kata dokter, tekanan darahmu rendah sekali. Kamu sering
begadangkah?” Jelas Martin.
“Iya Tin, kerjaanku numpuk. Jadi
aku lembur, tiga harian ini. Hehehe”
“Ya ampun Ka, kamu kan bisa minta
tolong aku, atau Dion. Kan kita satu bidang. Kalau kamu sakit gini, kita juga
yang susah tau.” Anita memarahiku. Mukanya seraaam sekali.
“Maaf maaf, aku takut ngerepotin
kamu sama Dion. By The Way, makasih
ya uda bawa aku kesini.” Kataku.
“Yang gendong kamu sampai sini
Rian tau. Waktu kamu pingsan, dia langsung nangkap kamu, terus kamu dibangunin
nggak bisa-bisa, jadi dia bawa kamu kesini.” Jelas Raras.
“Rian so sweet banget ya. Dia
keliatan banget ngawatirin kamu. Kalian pacarankah?” Lanjut Satya.
“Eh, nggak kok. Aku sama Rian
temenan aja. Kita udah sahabatan dari kecil.” Aku gugup sekali.
“Iya, si kecil ini sahabat dari
jaman TK, kita tetanggaan, nggak pernah pisah sekolah, kecuali waktu kuliah,
dan sekarang satu kantor.” Ada suara dari balik pintu.
“Ciieee.” Koor teman-temanku. Aku melupakan sakitku, yang ada
hanya tawa dan canda.
“Kamu yakin udah nggak apa-apa?”
Tanya Rian sewaktu aku dan dia sampai di depan pagar rumahku. “ Nggak perlu aku
antar kedalam?” Lanjutnya.
Aku menggeleng,”Nggak Yan. Sampai
disini aja, makasih ya.” Aku melambaikan tanganku.
Kejadian hari ini benar-benar
membuatku bahagia. Meskipun awalnya nggak enak karena aku sakit. Perhatian Rian
benar-benar nyata dan terasa. Apalagi teman-teman kantorku selalu bilang aku
cocok dengan Rian. Aku ambil Dinko, Notebook kesayanganku, dan mulai bercerita.
“Dear Dinko.. Aku bahagia hari ini. Rian begitu perhatian padaku. Apa
dia juga punya rasa yang sama? Tadi aku pingsan, dan dia yang membopongku. Tadi
dia juga cerita dia telah menyukai seorang cewek sejak jaman SMA dulu. Apa itu
aku? Setahuku tak ada wanita lain yang dekat dengannya selain aku. Entah jika
dia tak menceritakan apapun kepadaku. Dinko.. Aku benar-benar menaruh harapan
besar padanya. Kamu taukan? Aku mencintai dia, sejak dulu, sebelum aku mengenal
laki-laki lain selain dia, ayah, dan Fatih. Dinko.. Akankah cintaku bersambut?
Selama ini aku menolak semua lelaki yang menawarkan cinta kepadaku karenanya.
Dinko, salahkah aku terlalu berharap? Apa akan yang aku dapat? Bahagia atau
kecewa?”
Aku tutup Dinko, dan melayang ke
alam mimpi yang paling indah.
“Eka, ntar malem ikut yuk.” Satu
sms dari Rian.
“Mau kemana?” Balasku.
“Jalan-jalan aja. Aku ajak
temen-temen SMA dulu, Arman, Tio, Bekta, Sita,Didi,Jingga, Gladis.”
“Oke, kamu jemput akukah?” Tanyaku.
“Iya kecil. Dandan yang cantik
yah”
Aku segera mandi dan
bersiap-siap.
“Yah, Bu, Eka berangkat ya.” Aku
menyalami tangan kedua orang tuaku itu.
“Fatiiih, belajar ya. Jangan
malam mingguan aja kamu.” Aku mengacak-acak rambut adikku.
“Haduh kak. Aku bukan anak kecil
lagi tau.” Gerutu Fatih. Aku tertawa dan ngacir keluar.
“Hai Arman, Hai Rian.” Aku
menyapa dua lelaki ganteng didalam mobil.
“Masuk Ka, kita jemput Gladis
dulu ya.” Ujar Rian.
Menjemput Gladis? Ada apakah ini?
Apa Arman? Atau Rian? Apa Rian? Berjuta pertanyaan berkecamuk didadaku. “Oke.
Temen-temen yang lain gimana?” Tanyaku menghilangkan kegugupanku.
“Mereka nunggu di mall.”
Sepanjang perjalanan kerumah
Gladis aku terus bertanya-tanya. Siapa yang mempunyai hubungan khusus dengan
Gladis? Arman? Atau Rian? Semoga saja Arman, doaku. Gladis, gadis cantik,
tinggi, imut, pintar, heboh, aku dan dia selalu kejar-kejaran rangking dikelas,
sainganku yang lain Sita, meskipun saingan, kita tetep akrab, meskipun cuma
disekolah. Kami bertiga sama-sama memperoleh beasiswa ke luar negeri, aku ke
Amerika, Gladis ke Jepang, dan Sita ke Belanda. Sejak lulus SMA, aku putus
kontak sama mereka, karena memang aku nggak dekat dengan mereka. Teman
terdekatku hanya Rian.
Pintu disebelah kananku
terbuka,”Ekaaaaa.. aku kangen banget sama kamu. Amerika tetep nggak buat kamu
tinggi ya??” ledek Gladis.
“Weh kamu nggak berubah ya. Makin
cantik, tapi tetap heboh. Orang jepang nggak kaget liat kamu?”Aku balas
meledeknya.
Aku benar-benar lupa dengan
kegelisahanku tadi. Sampai di mall, teman-teman yang lain telah menunggu. Aku,
Rian, dan semuanya larut dalam kenangan masa lalu.
“Dulu tu, Arman pernah nembak
Eka. Tapi ditolak. Aku nih, saksi galaunya Arman. Iya kan Man? Ka?” Didi
membuka cerita. Aku, Arman, dan Rian terbatuk.
“Hah? Serius? Kalian berdua kok
nggak cerita sama aku sih?” Selidik Rian.
Aku berusaha tenang, dan melirik
Arman. Aku lihat dia akan berbicara.
“Hahaha, iya, itu kelas 1 SMA.
Aku malu kalau harus cerita sama kamu Yan. Kamu kan sahabat Eka, dan aku
sepupumu. Bisa-bisa kamu paksa Eka buat terima aku.” Jelas Arman.
Aku hanya diam. Tak tau harus
berkata apa. Rian sepertinya biasa-biasa saja, tak ada tanda-tanda raut
kecemburuan diwajahnya, dia malah berkomentar, bagus kalau aku bisa jadian
dengan Arman, karena aku dan dia bisa jadi sahabat plus saudara sepupu. Aku tak
mengerti.
Sepanjang perjalanan pulang aku
hanya diam.
“Kamu kenapa Ka?” Tanya Rian.
“Nggak apa-apa. Agak pusing aja.”
Jawabku berbohong.
“Kamu masih pusing-pusing?
Makanya jangan banyak begadang. Hobi banget sih.” Gerutu Rian.
Gladis menatapku
lekat-lekat,”Kamu anemia?”
Aku menggangguk.
“Iya Dis, kemarin sempat pingsan
di kantor.” Cerita Rian.
Gladis sudah tiba dirumahnya 15
menit yang lalu. Sekarang aku ada di depan rumahku.
“Thanks ya teman-teman
hati-hati.” Aku melambaikan tangan dan masuk kedalam rumah.
Pagi ini, aku benar-benar tak
enak badan. Aku menelepon Rian, dan memintanya untuk menyampaikan surat izin
istirahat dari dokter ke atasanku. Aku tak bisa keluar kamar ketika Rian datang
pagi itu, tapi sorenya Rian ke rumah, membawa buah-buah segar dan sop daging
kesukaanku.
“Kamu harus makan kambing, biar
cepet sehat. Aku suapin kamu ya.” Rian mengambil mangkuk berisi nasi dan sop
kambing, menyuapiku.
Nasiku hampir
habis,tiba-tiba,“Ka, menurutmu Gladis gimana?” Pertanyaan Rian ini, benar-benar
membuatku tersedak.”Kamu nggak apa-apa?” Rian menyodorkan segelas minum ke aku.
“Aku memang salah sudah
menyembunyikan ini sejak kita SMA dulu. Aku malu sama kamu, kalau kamu tau aku
pernah ditolak Gladis dulu. Aku tak mau kamu tau kesedihanku. Aku sudah
berusaha melupakannya. Tapi aku tak bisa.Sekarang aku dan Gladis kembali dekat.
Gladis benar-benar mempesonaku. Kamu sahabatku, dan teman dekat Gladis, kamu
pasti tau dia.”
Aku tak tau lagi apa yang aku
rasakan. Pengakuan Rian, benar-benar mengiris jiwaku. Dadaku mendadak sesak,
sesak sekali. Aku menolak suapan terakhir yang disodorkan Rian. Aku berusaha
menahan segala tangisku. Aku tak boleh menangis sekarang.
“Hmm.. Gladis baik, cantik,
tinggi, perhatian, cocok kok sama kamu.” Jawabku sekenanya.
“Gitu ya? Kamu setuju nggak kalau
aku sama dia?” Tanya Rian.
Aku menunduk, mengangguk, dan
berkata lirih,”tentu aku setuju. Dia bisa jadi pendamping yang baik.”
“Aku mau nembak dia besok, kamu
bantuin aku ya.” Aku mengiyakan. Tak lama kemudian Rian pulang.
Malam ini aku merintih, mengadu
kepada-Nya, yang Maha Mmberikan Cinta.
“Wahai Allah, beginikah yang dinamakan cinta? Beginikah rasanya patah
hati? 23 Tahun aku hidup, dan baru kali ini aku rasakan sakit yang begitu luar
biasa. Allah, inikah takdir-Mu? Dia yang aku cintai, mencintai temanku sejak
lama. Aku harus bagaimana Allahku?”
Aku menangis sejadi-jadinya, aku
lepaskan semua duka di relung hatiku.
Kamu mencintai Gladis Yan, bukan aku. Sedang aku memiliki cinta yang
tulus untukmu, yang kupendam selama hidupku. Tidakkah kamu lihat Yan? Aku harus
apa? Harus gimana? Menyatakan perasaanku dan membiarkanmu dilanda kebingungan?
Atau mengikhlaskanmu demi kebahagiaanmu? Ya, aku akan membahagiakanmu Yan. Aku
akan menggadaikan kebahagiaanku untukmu Yan. Untukmu Rian Dewantara.
Aku bertekad dalam hati untuk
mengikhlaskan Rian, meski hatiku terluka, meskipun aku tau tak ada alasan untukku
terluka. Aku tau, aku juga salah, karena terlalu berharap dan tak pernah berani
mengungkapkan perasaanku.
Dalam kepedihan, aku tetap
membantu Rian, menaklukan hati Gladis, dan Gladis menerima Rian. Aku
berpura-pura menerima semua kenyataan yang menimpaku. Aku bahagia tetap bisa
mencintai Rian dengan kepura-puraan dan melihat Rian bahagia mencintai Gladis.
Aku bahagia setiap aku ingat, ketika aku dan kamu jatuh cinta. Aku
jatuh cinta padamu, dan kamu jatuh cinta pada dia.
Surakarta, 14 April 2013 Request
by Reiny Eka Putri J


Comments
Post a Comment