Mimpi ( #FiksiSakit )


“Dokter! Suster!” Danis berteriak panik, tangannya menekan tombol pemanggil suster dan dokter jaga, sesekali wajahnya diarahkan keluar kamar berharap para tenaga medis tersebut muncul untuk menyelamatkan nyawa Gunawan, abangnya. Ingin saja dia berlari menyusuri lorong-lorong di luar, mencari dimana dokter dan suster berada, dan menyeret mereka agar segera sampai ke kamar tempat abangnya dirawat. Tapi wajah kesakitan Gunawan membuat Danis lebih memilih tetap di ruang rawat inap tersebut.
“Bertahanlah Bang, sebentar lagi dokter datang.”
Danis menggenggam erat tangan kakaknya. Napas Gunawan yang terengah-engah membuat Danis benar-benar ketakutan. “Sudah tibakah saatnya?” Danis tak dapat menghilangkan pikiran negatif di kepalanya meskipun dia yakin Gunawan akan bertahan.
“Bang Gunawan!” Danis menjerit. Suaranya tercekat.
***
“Danis! Danis!”
Tubuh Danis terguncang-guncang. Suara berat Gunawan memanggil namanya. “Bangun Danis, bangun.”
“Kau mimpi buruk?” Tanya Gunawan. “Matamu sembab sekali Danis, kau habis menangis semalam?”
Danis menggeleng pelan. Dia pandangi wajah Gunawan lekat-lekat. “Abang pasti sehat, mimpi tadi hanya bunga tidur. Tak akan pernah jadi nyata. ” Katanya dalam hati.
Danis beringsut ke kamar mandi, ia mencuci mukanya yang sembab. Sudah tiga hari ini dia bermimpi buruk, mimpi yang sama setiap malamnya. Hatinya tidak tenang dan ketakutan. Dia tak ingin kehilangan Gunawan. Gunawan bukan hanya abang baginya tapi Gunawan hadir sebagai mama dan papa untuk Danis. Kesibukan orang tua mereka membuat Danis begitu dekat dengan Gunawan. Gunawan adalah tempat Danis curhat, bercerita, bercanda, dan mengadu..
“Danis, kau mimpi apa tadi?” Gunawan kembali bertanya. Matanya mencari jawaban jauh ke dalam mata Danis.
“Abang mau kau cerita, barangkali itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Abang sering mendengar kau mengigau, meracau tak jelas. Kau lagi ada masalah?”
Danis hanya diam. Dia tak ingin menceritakan mimpinya. Dia paham, menceritakan mimpi buruknya pada Gunawan tidak akan membuat kondisi Gunawan membaik bahkan mungkin sebaliknya, kondisi Gunawan akan semakin menurun karena mimpi buruknya.
“Bang, mama dan papa belum bisa pulang hari ini. Ah, padahal mereka udah janji. Semenjak abang dirawat sampai sekarang, mama dan papa belum pernah satu kalipun pulang. Mereka cuma janji-janji tapi nggak ditepati. Memangnya mereka nggak pengen lihat keadaan anak cowok satu-satunya?”
Gunawan hanya tersenyum. Dia meraih kepala adik perempuannya itu dan mengelus-elus dengan lembut.”Butuh uang yang banyak untuk membayar biaya pengobatan dan perawatan abang di sini Danis. Kalau mama dan papa pulang mulu, siapa yang membiayai rumah sakit abang? Sementara abang tak dapat menghasilkan uang karena penyakit abang ini.”
Danis tersenyum kecut. Bohong kalau Gunawan tak mengharapkan kehadiran papa dan mama dalam keadaan seperti itu. Tapi benar juga kata Gunawan, seandainya papa dan mama tidak bekerja, siapa yang membiayai semua biaya rumah sakit? Ia menghela napas panjang.
Danis bangkit dari tempat duduknya. Kakinya melangkah ke arah balkon. Ruang rawat abangnya cukup nyaman, sangat nyaman malahan. Ruang VIP, di lantai tiga. Balkonnya langsung mengarah ke laut. Ruang seperti ini tentu mahal sewanya.
“Kalau mama dan papa tidak bekerja banting tulang, mungkin abang tak dapat dirawat di ruang ini.” Kata Danis dalam hati.
Danis melihat ke bawah, tampak aktifitas rumah sakit yang sekarang telah akrab dengannya. Dokter dan suster berlarian, ambulans dengan orang sakit di dalamnya, mobil-mobil jenazah yang mengangkut kematian.
Mati. Setiap yang hidup pasti mati. Itu hukum alam. Malaikat pencabut nyawa bisa datang kapan saja untuk menjemput abangnya. Tapi kematian Gunawan tak pernah diharapkannya. Meskipun dia paham, kanker usus bukan penyakit biasa yang mudah disembuhkan.
***
“Dokter! Suster!” Danis berteriak panik, tangannya menekan tombol pemanggil suster dan dokter jaga, sesekali wajahnya diarahkan keluar kamar berharap para tenaga medis tersebut muncul untuk menyelamatkan nyawa Gunawan, abangnya. Ingin saja dia berlari menyusuri lorong-lorong di luar, mencari dimana dokter dan suster berada, dan menyeret mereka agar segera sampai ke kamar tempat abangnya dirawat. Tapi wajah kesakitan Gunawan membuat Danis lebih memilih tetap di ruang rawat inap tersebut.
“Bertahanlah Bang, sebentar lagi dokter datang.”
Danis menggenggam erat tangan kakaknya. Napas Gunawan yang terengah-engah membuat Danis benar-benar ketakutan. “Sudah tibakah saatnya?” Danis tak dapat menghilangkan pikiran negatif di kepalanya meskipun dia yakin Gunawan akan bertahan.
Dokter dan suster telah berada di ruangan.
“Cepat dokter, cepat!” Danis menangis tersedu.
Pintu kamar terbuka, mama dan papa Danis masuk ke ruangan. Danis terkejut dan berhambur ke pelukan mamanya.
“Abang, Ma. Kata dokter, abang sudah tak ada harapan.”
***
Kubur Gunawan masih basah. 15 menit yang lalu, Gunawan telah diistirahatkan di dalamnya. Danis menggenggam nisan abangnya erat, dia tak ingin menangis lagi.”Istirahatlah yang tenang abang. Terimakasih telah jadi abang yang baik untuk Danis. Tunggu Danis. Danis yakin kita akan kumpul sama-sama lagi nanti.”
Mamanya memegang pundak Danis,”Sayang, ayo pulang.”
Danis melihat ke arah mamanya dan mengangguk, ditatapnya sekali lagi kuburan Gunawan. “Danis akan sering ke sini, mengunjungi abang.” Janjinya.

Comments

Popular Posts